CERITA DAN KISAH : Mei 2018

Kamis, 31 Mei 2018

Hijabku Sayang Hijabku Malang

HEBOH DI PALEMBANG SEORANG AYAH MELARANG ANAKNYA PAKAI HIJAB.

Seorg ayah marah besar ketika melihat anaknya memakai hijab dan pakaian muslimah..

Ayah :
"Buka dan buang pakaian,itu.!!!Ayah benci melihat engkau memakainya

  Dengan tegas dan lantang sang anak menjawabnya..!!

Anak :
"Sebagai seorg muslim seharusnya senang melihat anknya memakai hijab dan menutup aurat, tpi kenapa ayah begitu benci dgn pakaian ini,bukankah ini perintah agama kita.??

Ayah :
"Kalau kamu masih memakai pakaian itu, silahkan pergi dari rmh ini, aku tdk sudi melihatmu mengenakan pakaian itu,,!! Pergi kau sekarang juga... !

  Sang anak semakin sdih mendengar ucapan ayahnya,niat baiknya ingin memakai hijab dan menutupi aurat dilarang oleh orang tuanya,,tpi niatnya sudah bulat memakai hijab dan mnutupi aurat.,,,

Dan akhirnya sang anak mulai kesal dan putus asa dgn linangan air matanya...

Anak :
"Jika ayah tidak mengijinkan saya menutupi aurat, lebih baik ayah bunuh saja aku sekarang, lebih baik saya mati daripada hidup dengan membuka aurat..

Sang ayah terdiam, dan tidak tau harus berbuat apa lagi setelah mendengar ancaman anaknya itu..

Ibunya yang sedari tadi hanya melihat pertengkaran tersebut, akhirnya menghampiri keduanya dan dengan nada yang tinggi langsung memarahi anaknya.

Ibu :
"Bukannya kami tidak suka melihat kamu berhijab dengn menutupi aurat, tapi kamu ini kan laki-laki  .....Saripuddin....!!
(sambil memukul anaknya pake panci)

"Awas.... jangan ngaku-ngaku "SARI" lagi ya...!! 

Kisah Malam Rasulullah Dan Abu Bakar r.a Didalam Gua Tsur

Di gua Tsur wajah Abu Bakar pucat pasi. Langkah kaki para pemuda Quraisy tidak lagi terdengar samar. Tak terasa tubuhnya bergetar hebat, betapa tidak, dari celah gua ia mampu melihat para pemburu itu berada di atas kepalanya.

Setengah berbisik berkatalah Abu Bakar.
"Wahai Rasul Allah, jika mereka melihat ke kaki-kaki mereka, sesungguhnya mereka pasti melihat kita berdua".

Rasulullah memandang Abu Bakar penuh makna. Ditepuknya punggung sahabat dekatnya ini pelan sambil berujar;

"Janganlah engkau kira, kita hanya berdua. Sesungguhnya kita bertiga, dan yang ketiga adalah Dia, yang menggenggam kekuasaan maha, Allah".

Sejenak ketenangan menyapa Abu Bakar. Sama sekali ia tidak mengkhawatirkan keselamatannya. Kematian baginya bukan apa-apa, ia hanya lelaki biasa. Sedang, untuk lelaki mulia yang kini dekat di sampingnya, keselamatan di atas mati dan hidupnya.

Bagaimana Madinah jika harus kehilangan purnama. Bagaimana dunia tanpa benderang penyampai wahyu. Sungguh, ia tak gentar dengan tajam mata pedang para pemuda Quraisy, yang akan merobek lambung serta menumpahkan darahnya.

Sungguh, ia tidak khawatir runcing anak panah yang akan menghunjam setiap jengkal tubuhnya. Ia hanya takut... mereka membunuh Muhammad.

Berdua mereka berhadapan, dan sepakat untuk bergantian berjaga. Abu Bakar memandang wajah syahdu di depannya dalam hening. Setiap guratan di wajah indah itu ia perhatikan seksama. Kelelahan yang mendera setelah berperjalanan jauh, seketika seperti ditelan kegelapan gua. Hanya ada satu nama yang berdebur dalam dadanya, cinta...

Sejeda kemudian, Muhammad tertidur di pangkuan Abu Bakar. Dalam senyapnya malam, wajah Abu Bakar muram. Ia teringat perlakuan orang-orang Quraisy yang memburu Purnama Madinah seperti memburu hewan buruan.

Sebuah kuntum azzam memekar di kedalaman hatinya, begitu semerbak.

"Selama hayat berada dalam raga, aku Abu Bakar, akan selalu berada di sampingmu, untuk membelamu dan tak akan membiarkan siapapun menganggumu".

Gua itu begitu dingin dan remang-remang. Tiba-tiba saja, seekor ular mendesis-desis perlahan mendatangi kaki Abu Bakar yang terlentang. Abu Bakar menatapnya waspada, ingin sekali ia menarik kedua kakinya untuk menjauh dari hewan berbisa ini. Namun, keinginan itu dienyahkannya dari benak, tak ingin ia mengganggu tidur nyaman Rasulullah. Bagaimana mungkin, ia tega membangunkan kekasih yang sangat kelelahan itu. Abu Bakar meringis ketika ular itu menggigit pergelangan kakinya, tapi kakinya tetap saja tak bergerak sedikitpun. Dan ular itu pergi setelah beberapa lama.

Dalam hening, sekujur tubuhnya terasa panas. Bisa ular segera menjalar cepat. Abu Bakar menangis diam-diam. Rasa sakit itu tak dapat ditahan lagi. Tanpa sengaja, air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah yang tengah berbaring. Abu Bakar menghentikan tangisannya, kekhawatirannya terbukti, Rasulullah terjaga dan menatapnya penuh rasa ingin tahu.

"Wahai hamba Allah, apakah engkau menangis karena menyesal mengikuti perjalanan ini"
suara Rasulullah memenuhi udara Gua.

"Tentu saja tidak, saya ridha dan ikhlas mengikutimu kemana pun" potong Abu Bakar masih dalam kesakitan.

"Lalu mengapakah, engkau meluruhkan air mata?"

"Seekor ular baru saja menggigit saya wahai putra Abdullah, dan bisanya menjalar begitu cepat"

Rasulullah menatap Abu Bakar penuh keheranan, tak seberapa lama bibirnya bergerak;
"Mengapa engkau tidak menghindarinya?"

"Saya khawatir membangunkanmu dari lelap"
jawab Abu Bakar.

Ia kini menyesal karena tidak dapat menahan air matanya hingga mengenai pipi Rasulullah.

Saat itu air mata bukan milik Abu Bakar saja. Selanjutnya mata Rasulullah berkabut dan bening air mata tergenang di pelupuknya. Betapa indah sebuah ukhuwah.

"Sungguh bahagia, aku memiliki seorang seperti mu wahai putra Abu Quhafah. Sesungguhnya Allah sebaik-baik pemberi balasan".

Tanpa menunggu waktu, dengan penuh kasih sayang, Rasulullah meraih pergelangan kaki yang digigit ular. Dengan mengagungkan nama Allah, Nabi mengusap bekas gigitan itu dengan ludahnya. Maha suci Allah, seketika rasa sakit itu tak lagi ada. Abu Bakar segera menarik kakinya karena malu.

"Bagaimana mungkin, mereka para kafir tega menyakiti manusia seperti mu."
"Bagaimana mungkin?"
nyaring hati Abu Bakar kemudian.

Gua Tsur kembali ditelan senyap. Kini giliran Abu Bakar yang beristirahat dan Rasulullah berjaga. Dan, Abu Bakar menggeleng kuat-kuat ketika Rasulullah menawarkan pangkuannya. Tak akan rela, dirinya membebani pangkuan penuh berkah itu.

APAKAH KITA AKAN MEMBIARKAN KAKI KITA DIGIGIT ULAR SEPERTI SAYYIDINA ABU BAKAR R. A, ATAU MALAH SEBALIKNYA  INILAH CINTA SEJATI...

اَللّٰـهُمَّ صَلِّ عَلَى رُوْحِ سَيِّدنَا مَحَمَّدٍ فِي الْاَرْوَاحِ
وَعَلَى جَسَدِهِ فِيْ الْاَجْسَادِ وَعَلَى قَـبْـرِهِ فِي اْلـقُبُوْرِ
وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَـلِّم



,,,

Anda Harus Belajar Sejarah



NASEHAT GUS DUR....

"Orang ngotak-ngatik Qur'an dan hadist itu punya dasar dewe-dewe.."

"tapi Pancasila ojo diotak-atik.."

"sebab pancasila itu payung bersama.."

"Naliko dulu ribut masalah pancasila, ono sing takon karo Bung Karno,,"

"pancasila ki bener ora to?"

"Akhire Bung Karno jawab:"
"yo kono takon karo Kyai Hasyim.."

"Jaman semono sopo sing iso ngalahke pintere Kyai Hasyim. Kyai saiki rata-rata ming apal 4-5 hadist ae wis pamer, kemlinti.."
"karena berubung Kyai Hasyim itu hafal Kutubusittah, kan ora perlu amer?!, ora tau trocol dalil..."

"makane NU iki ora tau umuk muni: (kami berbangsa dan bertanah air)."

"Lha wong sing duwe bongso wong NU kok..sing biyen perang belo bongso yo wong NU,sing tumpah darah yo wong NU,sing ngajak bedo karo belanda yo wong NU..makane NU ki ra tau umuk.."

"koyo sampean nek wis apal karo bojone kan yo ra mungkin diumukke iki lho bjoku..lha nggih to?!.."

"lan wong nek wis apal karo bojone kan yo ra perlu to rono-rene gowo fotone bojone samar nek lali...wong apaaaal soale..nah,NU niku ngoten niku..?!"

"Dadi naliko Bung Karno ditanya sama Kyai Hasyim soal pancasila,"

"Kyai Hasyim bertanya: iki sila Ketuhanan yg Maha Esa entuk seko endi?"

"terus Bung Karno jawab: niki saking Qulhuwallohhu Ahad Kyai...?"

"Kyai Hasyim jawab: o yo wis bener...dadi sak tebo-tebone NU ki barang bener.dadi arep mencok nang ngendi wae,model opo wae yo ra perlu di pikir iki bener opo ora?!yo mesti beneeeer..."

"Jadi dulu kanjeng nabi pernah berkata bahwa sesuk akhir zaman bakal lahir uwong sing ngalim, bener secara syar'I sing iso ngalahno konstantinopel.jenenge sultan Muhammad.."

"nah Sultan Muhammad niki ketika indonesia di jajah portugis,menurut Sultan Muhammad secara isyarohe indonesia iki kudu dadi negoro sing kuat islame..."

"nah, akhire karena berhubung sultan muhammad ini adalah ulama' as'ariyyah,maka sultan muhammad juga mengirim ulama2 as'ariyyah untuk mengislamkan tanah jowo sampai akhirnya jadilah tradisi walisongo.."

"makane terus muncul VOC itu..."

"Jadi yg memegagang kemandirian budaya bangsa ini dulu adalah nasionalismenya bung karno dan Nahdhotul Ulama'."
"Agar apa?"

"Agar supaya budaya indonesia ini tidak bisa diambil oleh bangsa lain.."

"nah,mereka-mereka yang datang akhir-akhir ini kan ingin memisahkan kita dari kemandirian budaya bangsa ini..bedug disalahke,jare dalile bedug bid'ah.."

"Lha bedane bedug karo spiker ki opoo to..wong podo2 ming gawe ngundang uwong. wong bedug yo dudu syareat."

"mulo berhubung bedug kuwi dudu syareat,arep ditabuh bocah cilik yo oleh,ditabuh wong edan yo oleh.."

"tapi saiki mergo bedug wis kalah banter karo spiker,akhire akeh sing gowo spiker."

"mengko suwi-suwi spiker yo ra kanggo.."

"sebab arep nang masjid di SMS.makane kolo wingi kulo pun matur,nek setan tenanan niku diwacakke ayat kursi insya Alloh setane kobong.....!!"

"tapi nek setan wujud menungso sing arep ngrusak kemandirian budaya bangsa ini, ayat kursi di gunakke.."

"tapi ayate sing ditinggal,kursine balangke..?!!!"






,,,

ADAKAH TERCANTUM NAMA KITA DI DALAM  DAFTAR NAMA MILIK ALLOH?

Alkisah, seorang  tukang besi bertanya kepada seorang Ustadz :

"Ustad, kenapa ya, saya merasa bosan dengan hidup saya yang begini-begini saja, hambar, tak ada arahnya, dan tak ada nikmatnya, bosan saya Ustadz, saya ingin bahagia tapi kenapa susah sekali ya ?".

Ustadz pun menjawab :
"Oohh, mungkin saat ini Alloh juga lagi bosan dengan tuan."

"Alloh bosan dengan saya ?
"Maksudnya bagaimana Ustadz?"
(Tanya si tukang besi kembali dengan penuh penasaran)

Ustad menjelaskan :
"Mungkin Alloh capek mencari tuan, tapi tuan tak pernah ditemukan."

"Dicari di antara kumpulan sholat dhuha, tuan tak ada, dicari di antara kumpulan tahajjud juga tak ada."

"Dicari di antara kumpulan Puasa Sunah juga tak ada, dicari di antara kumpulan sedekah, juga tak kelihatan."

"Dicari di antara kumpulan Tadarus Qur'an, tuan juga tak ada di sana. Dicari di antara kumpulan orang orang Umroh, niat pun tuan belum ada."

"Dicari di antara orang-orang yang Khusyuk Shalatnya, tuan juga tak ada."
"Dicari di antara Ahli Shalawat pun tak ada. Dicari di antara yang menuntut ilmu apa lagi."

"Lalu Alloh SWT mau mencari tuan di mana lagi...?"
"Coba tuan beritahu..!"

"Bicaralah jangan diam !"

"Lalu.... "

Menangislah si tukang besi tadi sambil mengusap air matanya, kemudian ber-Istighfar.

"Segeralah kembali kepada Alloh!"
"Dekatilah Alloh."
"Hanya Alloh sajalah DZAT yang bisa menenteramkan hidup kita."

PASTIKAN NAMA KITA ADA DAN SENANTIASA TERTULIS DALAM DAFTAR TERSEBUT.

Selamat berjuang Saudaraku, jangan pernah menyerah dengan apa yang menimpa hidup kita.

Insya Alloh Alloh SWT akan selalu me-Rahmati kita

Amiin

Pilih Mana Antara BH 36B Atau Isinya Yang 36B

oleh : Emha Ainun  Nadjib

Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia dan menjemukan bila Anda hanya menguras pikiran utk mengurus "bungkus"-nya saja dan mengabaikan "isi"-nya ...

Maka bedakan-lah apa itu "bungkus"-nya dan apa itu "isi"-nya ...

"Rumah yang Indah" hanya bungkus-nya
"Keluarga Bahagia" itu isi-nya ...

"Pesta Pernikahan" hanya bungkus-nya
"Cinta Kasih, Pengertian dan Tanggung Jawab" itu isi-nya ...

"Kekayaan" itu hanya bungkus-nya,
"Hati yang Gembira" itu isi-nya ...

"Makan Enak" hanya bungkus-nya,
"Gizi, Energi dan Sehat" itu isi-nya ...

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkus-nya,
"Kepribadian dan Hati" itu isi-nya ...

*"Bicara" itu hanya bungkus-nya,*
*"Kenyataan" itu isi-nya ...*

"Buku" hanya bungkus-nya, "Pengetahuan" itu isi-nya ...

*"Jabatan" hanya bungkus-nya,*
*"Pengabdian dan Pelayanan" itu isi-nya ...*

"Pergi ke tempat ibadah" itu bungkus-nya,
"Melakukan Ajaran Agama" itu isi-nya ...

"Kharisma" hanya bungkusnya,
"Karakter" itu isi-nya ...

"Rezeki" itu hanya bungkus-nya,
"Berkah" itu isi-nya ...

Utamakan-lah *Isi*-nya, serta tetap-lah merawat *Bungkus*-nya dengan baik ...

"... Maaf kalau saudara-saudaraku sejak tadi menunggu mana cerita isi-nya BH yang 'nggak muncul-muncul ..."

*Maka-nya ... jangan melihat judul-nya ...  tetapi lihat-lah "isi"-nya*

Selasa, 29 Mei 2018

JANGAN HANCURKAN DAKWAH DENGAN SIKAPMU YANG NGAWUR DAN TIDAK DEWASA


Banyak sekali kejadian-kejadian akhir-akhir ini yang terkadang hanya bisa membuat diriku tersenyum saja dengan ikhlas. Bagaimana tidak seseorang yang memang benar-benar berniat melakukan ibadah dirumah seseorang karena undangan dari pihak tuan rumah, tetapi hanya karena berbeda pandangan bisa membuat salah seorang anggota keluarga dengan gampang mengobarkan emosi kepada para hadirin yang datang atas undangan tuan rumah.
Bahkan dengan penuh kesombongan karena merasa paling mengerti urusan Qur'an dan hadits dwngan gampangnya menyesatkan apa-apa yang akan kami berikan dalam bentuk dzikir melingkar.
Coba cermati sebuah pandangan seorang ulama yang bisa kita pertanggung jawabkan keimanannya dan keilmuannya dari (KH. MUSTOFA BISRI - GUS MUS)
  
Saya kadang merasa aneh melihat saudara saya *umat Islam* yang memiliki sifat seperti anak-anak, ingin menang sendiri, mudah marah dan memaksakan kehendaknya agar orang lain sama dengan dirinya...
Padahal Alquran sudah mengatakan untuk Berbuat Adil karena itu bisa mendekatkan kepada ketaqwaan
Tapi begitulah sifat anak-anak kadang tidak bisa menerima nasehat yang baik sekalipun untuk dirinya sendiri
Atheis dimusuhi karena tidak bertuhan
Bertuhan dimusuhi karena tuhannya beda
Tuhannya sama dimusuhi karena nabinya beda
Nabinya sama dimusuhi karena alirannya beda
Alirannya sama dimusuhi karena pendapatnya beda
Pendapatnya sama dimusuhi karena partainya beda
Partainya sama dimusuhi karena pendapatannya beda
Apa kamu mau hidup sendirian di muka bumi untuk memuaskan nafsu keserakahan?.
Kau tahu apa yang dilakukan Sayyidul Wujud Muhammad SAW pada seorang yahudi tua yang tiap hari meludahi dan melempari kotoran padanya?
Ia jenguk dan doakan sang yahudi ketika yahudi itu sakit.
Kau tahu apa yang dilakukan Muhammad SAW pada seorang yahudi buta yang tiada hari tanpa mencacinya? 
Ia suapi setiap hari dengan tangannya sendiri yang mulia tanpa sang yahudi tahu bahwa yang menyuapinya adalah Muhammad SAW yang selalu ia caci.
Itulah Islam
Ber-Islamlah seperti Islam-nya Muhammad SAW, bukan Islam ala egomu.
Jangan sampai kau hanya ber-Islam, tapi kau kehilangan Muhammad SAW
Jangan lemahkan Islam yang kuat dengan tindakan kerdilmu
Jangan hinakan Islam yang suci dengan perbuatan nista

Kamis, 24 Mei 2018

Hati-Hati Dengan Pengaruh Orang Yang Sok Alim


Anak muda itu bersungut-sungut dan curhat ke Ujang: "Kenapa ceramah dari kiai sepuh tadi itu kok isinya cerita saja, jarang sekali kutipan dalil ayat dan hadisnya."
"Terus? Apa lagi?" 
(tanya Ujang)
"Iya Kang....begitu diminta baca doa, mbah kiai itu juga doanya pendek-pendek saja, gak bisa bikin jamaah menangis kayak dzikirnya ustad yang sering tampil di tv itu lho"
"Masih ada? keluarkan saja...ayo apalagi?"
"Satu lagi Kang....kok mbah kiai tadi juga pakaiannya sederhana dan gak pakai sorban melingkar di atas kepalanya, atau tangannya gak memegang biji tasbih. Saat diajak bicara juga biasa saja gak kelihatan kayak orang alim yang sedikit-sedikit menyebut subhnallah...masya Allah. Bahkan tadi malah guyonan gitu sama panitia. Beliau beneran kiai gak sih?"
Ujang meletakkan hp nya di atas meja, terus berkata;
"Jundi, ente dengerin yah...."
"soalnya saya cuma ngomong ini sekali"
"Tidak ada siaran ulangan," 
(ujar Ujang dengan suara yang mendadak terdengar berat dan berwibawa ala vokalis Jamrud).
Jundi, anak muda yang curhat itu, mendadak tegang.
Sedetik kemudian Ujang tertawa ngakak.
"Nah kan...baru saya ubah gaya saya bicara dan pasang muka jaim, ente sudah tegang". 
"Para Kiai itu gak mau jaim dalam tutur kata maupun sikap kesehariannya, karena umat bisa tegang terus". 
"Para Kiai itu ingin akrab dan dekat dengan umat, bukan malah menciptakan jarak dengan berbagai atribut ke-kiai-annya". 
"Ada kalanya para Kiai itu pakai sorban, atau cuma peci, atau malah pakai blankon, topi cowboy, atau topi pet gaya anak muda". 
"Kiai yang gondrong juga ada lho". 
"Ilmu mereka luwas, dan sikap serta penampilan mereka luwes."
Jundi mulai manggut-manggut.
Ujang meneruskan gaya kultumnya; 
"Para Kiai itu tahu betul hadis Nabi yang mengatakan Allah tidak melihat penampilanmu, tapi melihat isi hatimu". 
"Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila suwarikum, walakin yanzhuru ila qulubikum."
"Ah mendadak pakai dalil deh diriku ini" 
(mbatin Ujang).
Ujang lantas membuka hpnya dan menunjukkan kepada Jundi sejumlah foto para Kiai yang penampilannya santai.
Ada foto santai Mbah Muslim Imampuro (Allah yarham), ada foto Kiai Mustofa Bisri yang selepas menolak menjadi Rais Am wajahnya makin bersinar dan terlihat sehat berseri tanda tidak punya beban berat. Beliau enteng saja mau pakai topi, peci atau sorban.
Dan foto Habib Luthfi, sang mursyid tarekat, yang dengan nyamannya pakai topi cowboy atau blankon.
Setelah melihat foto-foto tersebut, lantas jundi bertanya;
"Kalau soal para Kiai jarang pakai dalil apa alasannya Kang?"
"Jundi, kalau soal dalil tanya sama santri....mereka dalam dua menit sudah bisa ngasih dalil yang kamu minta." 
"Sekarang itu sudah ada software maktabah syamilah." 
"Gampang banget nyari dalil. Justru kalau para Kiai ceramah, saya lebih fokus pada kisah dan cerita yang mereka sampaikan hasil pergumulan batin mereka berpuluh tahun mengajar dan mengabdi". 
"Ini yang gak ada software-nya. Ini yang susah kita temukan. Justru ceramah modal para Kiai itu sudah refleksi seabrek-abrek dalil dan aplikasinya sehari-hari". 
"Level para beliau itu gak lagi main dalil. Sama saja dengan level Jenderal bintang empat kok masih ditanya gimana caranya baris berbaris. Jenderal sudah mikir gimana menang perang kok ditanya dalilnya hadap kanan-hadap kiri."
Ujang melanjutkan: 
"dulu Gus Dur juga ditanya kenapa kalau ceramah gak ngutip ayat dan hadis kayak penceramah yang lain. Kata Gus Dur: lha yang lain itu ngutip ayat dan hadis biar dipanggil kiai, sedangkan saya dari dulu juga sudah dipanggil Kiai."
Jundi berusaha menahan senyum lantas tanpa sadar Jundi mengelus jenggotnya yang cuma lima lembar dan dipaksakan tumbuh itu.
"Tapi mengapa doa mereka pendek saja Kang?"
"Doa itu bukan soal panjang atau pendek, atau berurai air mata. Doa itu soal bisikan kalbu yang langsung tersambung ke Arasy Ilahi. Para Kiai doanya pendek karena mereka sudah habis waktunya untuk mengajar santri dan mengurusi umat (ditambah lagi menjawab pertanyaan dan komentar di fesbuk)." 
"Nanti disepertiga malam, di saat semua terlelap, para Kiai berkhalwat dan bermunajat sendirian. Doa dan rintihan mereka panjang sekali saat itu. Sajadah mereka basah oleh tangisan. Tapi itu dilakukan di bilik tempat mereka berkhalwat. Bukan di depan umum dan disorot kamera tv."
Jundi mengelus lagi jenggotnya lagi, dan Ujang juga mulai kumat isengnya dengan mencoba mempengaruhi jundi yang dari tadi cuma mengelus jenggotnya yang cuma hanya 5 lembar.
"Jundi, nih duit dua puluh ribu untuk dirimu, beli yah obat penumbuh jenggot... biar lebatan dikit itu jenggot. Mau nyunnah kok tanggung gitu sih. Cuma lima lembar... udah gitu tumbuhnya kok berjauhan. Gak kompak blas...!"
Tabik,
Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan dosen senior Monash Law School

Tolong Pak Polisi Aku Jangan Ditilang

Di suatu siang di sebuah jalan yang berbelok diantara pohon bambu, seorang pemuda harus berurusan dengan polisi.

Pemuda tersebut yang bernama Parman yang mengendarai sepeda dengan pedenya, dan tidak menyangka kalau didepanya di balik jalan yang berkelok ternyata ada beberapa polisi yang sedang mengadakan razia gabungan.

Karena sudah terlanjur meluncur, maka dengan perasaan dag dig dug Parman berjalan terus dengan motornya dan berharap tidak ada polisi yang memberhentikannya.

Tetapi semuanya tidak sesuai harapannya, ternyata salah seorang polisi dengan sigap menyetop agar berhenti dan segera minggir.

Karena distop, maka parman pun akhirnya berhenti dengan sikap tenang sambil menyiapkan jurus jitu menyelamatkan diri dari tulang an Pak Polisi tersebut, karena memang tidak membawa perlengkapan surat-surat kendaraan.

Dan akhirnya terjadilah percakapan antara Parman dengan Pak Polisi yang menilangnya.

Dengan sikap yang penuh wibawa dan tegap serta memberi hormat pada Parman, sang Polisi berkata;

"Selamat sore Pak... "
"bisa tunjukin SIM atau STNK surat kendaraan anda...?!!"

Karena memang tidak membawa surat-surat tersebut, dengan jujur Parman menjawab;
"Aduh saya lupa enggak bawa pak..!!"

"Karena anda telah melakukan kesalahan, maka anda kami tilang
Polisi kemudian membuat surat tilang,,,

Tapi katana sudah dirancang jurus selamat dari tilangan, maka Parman Segera memohon agar tidak ditilang;
"Tolong Jangan tilang saya dong pak... saya mau telpon bapak saya di kantor Ditlantas POLDA sebentar ya pak...!!"

Mendengar si Parman berkata seperti itu... pak polisi langsung kaget,,
Dan berpikir bahwa bapaknya orang yang ditilang merupakan seorang Polisi juga yang dinas di Polda,

Karena penasaran, maka Polisi tersebut memastikan dengan berkata kepada Parman;
"Bener itu bapak kamu kerja di Ditlantas Polda..?"

Dengan pedenya, serta dengan sikap tenang, Parmanpun kembali menjawab;
Parman: "Iya Bener pak... kalo bapak enggak percaya telepon saja pak... ini nomornya pak,,!!" sambil memberikan secarik kertas yang berisi nomer HP bapaknya yang bekerja disana,,

Pak polisi pun percaya begitu saja, dan segera melepaskan Parman begitu saja tanpa dikenai surat tilang;
"Ya sudah pergi sana...!!"

Dengan penuh kemenangan tetapi tetap dengan perasaan bergetar, Parman mengucapkan rasa terima kasih;
"Wah Makasih banyak ya Pak,,!!

"Pak Polisi pun penasaran kemudian pak polisi menelpon nomer HP tersebut,,
"Halo... Selamat sore... benar nomor ini di Ditlantas Polda..??"

Suara telepon :
"iya Benar pak... apa yang bisa saya bantu pak..???"

POLISI :
“Kalo boleh tau... ini di bagian apa ya...??”

Suara telepon :
“Ini di bagian KANTIN pak… Bapak mau pesan nasi berapa bungkus..???”

POLISI :
???!&&%=$£€¥§¤#¿¿¡...

Maaf cuman sekedar cerita biasa tanpa fakta dan tidak nyata, hanya sekedar menghibur pembaca saja...



,,,,,

MUKJIZAT RASULULLAH SAW. SAAT MASIH BALITA

ALLAHUMMA SHOLI WA SALIM ALA SAYIDINA MUHAMMAD WA ALA ALI SAYIDINA MUHAMMAD.......

Jangan pernah merasa  bosan ya...
dalam Membaca  kisah rosululloh...

Di saat Rasulullah Saw. lahir, banyak dari kaum Quraisy yang menjenguk dan mengucapkan selamat atas kelahiran Nabi Saw. 

Begitu pulang ke rumah, keluarganya terkejut dengan bau harum semerbak darinya, dan menanyakan apakah dirinya memakai minyak wangi?

Maka dijawab bahwa bau semerbak harum ini bukanlah dari minyak wangi, tetapi dirinya baru saja pulang dari menjenguk Muhammad bin Abdullah Saw.

Sesungguhnya ini semua adalah sebagai anugerah yang sangat agung dari Allah Swt. yang dilimpahkan kepada Baginda Rasulullah Saw. Dan sebagai mukjizat yang menunjukkan keutamaan dan keistimewaan Rasulullah Saw. di sisi Allah Swt.

Saat Rasulullah Saw. lahir, yang pertama kali menyusui beliau adalah ibunda tercinta Sayyidah Aminah Ra. Yang kedua adalah Sayyidah Tsuwaibah al-Aslamiyyah Ra., baru kemudian Sayyidah Halimah as-Sa’diyyah Ra.

Sayyidah Halimah Ra. adalah wanita yang suci nan mulia di sisi Allah Swt. yang telah dilimpahi anugerah agung dari Allah Swt. dengan dipilihnya untuk menyusui dan merawat kekasih-Nya, Rasulullah Muhammad Saw.

Dan pada hakikatnya Allah Swt. telah menentukan pilihannya tersebut, serta menjaga kesuciannya dari perbuatan jahiliyyah. Dan Allah Swt. telah melimpahkan pula kepadanya kebersihan lahir batin, semata-mata hal itu adalah demi memuliakan dan mengagungkan Baginda Nabi Besar Muhammad Saw. (Madarij ash-Shu’ud halaman 17).

Dan sesungguhnya daerah tempat tinggal Sayyidah Halimah yang bernama Bani Sa’d, yang terletak di sekitar Thoif sedang mengalami paceklik yang sangat panjang. Meskipun demikian, dengan taufiq dan hidayah dari Allah Swt., Sayyidah Halimah senantiasa ridha, sabar dan selalu bersyukur kepada Allah Swt.
Sahabat Abdullah bin Abbas Ra. berkata: “Sesungguhnya Allah Swt. telah memerintahkan malaikatNya untuk menyerukan panggilan: 

"Wahai seluruh makhluk ciptaan Allah Swt. 
Ketahuilah oleh kalian semua, sesungguhnya telah lahir kekasih Allah Swt. Baginda Nabi Besar Muhammad Saw.
Sungguh beruntung sekali makhluk yang dipilih untuk menyusui dan merawatnya," 

Setelah para makhluk Allah Swt. mendengar seruan tersebut, maka mereka memohon kepada Allah Swt. agar diizinkan untuk merawatnya, bahkan para malaikat pun sangat mengharapkan hal itu. Maka Allah Swt. berfirman: 

"Ketahuilah oleh kalian semua wahai makhlukKu, sesungguhnya Aku telah menetapkan Halimah untuk merawat dan menyusuinya."

Kondisi Sayyidah Halimah Ra. sebelumnya adalah dalam keadaan miskin dan susah payah dalam kehidupannya. Namun beliau tetap memperbanyak syukur kepada Allah Swt. Meskipun kehidupan Sayyidah Halimah Ra. semakin berat, makan apa adanya dari tanam-tanaman yang ada di sekitarnya.

Ditambah lagi beliau baru saja melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki. Maka kesulitan demi kesulitan pun semakin bertambah dan memuncak, sehingga memaksa beliau untuk makan sedikit sekali dalam seminggunya.

Dalam keadaan yang penuh dengan kesengsaraan itu, beliau mimpi didatangi seseorang yang menuntunnya menuju telaga air yang putih jernih melebihi susu. Sayyidah Halimah Ra. disuruh meminumnya. 

Beliau kemudian minum sampai merasa kenyang dan bertanya: 
"Wahai tuan, siapakah sebenarnya Anda?"

Orang tersebut menjawab: 
"Wahai Halimah, ketahuilah olehmu, sesungguhnya aku adalah al-Hamd yang berwujud sebagai manusia dikarenakan pujianmu kepada Allah Swt. di saat kamu dalam keadaan sulit ataupun senang. Pergilah engkau ke Makkah, niscaya kamu akan mendapati kemakmuran dari sana."

Maka 7 hari kemudian setelah Rasulullah Saw. lahir, Sayyidah Halimah bersama suami dan anaknya yang bernama Abdullah pergi ke Makkah untuk mencari penghasilan sebagai tukang rawat dan menyusui bayi. (Nuzhat al-Majalis juz 2 halaman 79).

Sayyidah Halimah Ra. pernah menceritakan tentang dirinya: “Bahwa aku, suamiku dan anakku yang masih kecil pergi ke Makkah beserta rombongan dari Bani Sa’ad untuk mencari penghasilan (merawat dan menyusui bayi). Dan hal itu terjadi pada tahun paceklik yang sangat dahsyat sehingga hewan-hewan ternak kami banyak yang mati, dan pada saat itu kota Makkah dalam keadaan subur makmur.

Kemudian kami berangkat dengan mengendarai hewan keledai yang sudah tua nan kurus, serta kami bawa pula onta untuk kami perah susunya. Dan pada malam hari kamipun tak bisa tidur akibat tangisan anak kami yang kelaparan dikarenakan air susuku sudah tidak muncukupinya lagi.

Apalagi air susu onta kami juga tak bisa diharapkan lagi. Kami benar-benar dalam kondisi yang sangat kritis. Hanya tersisa suatu harapan datangnya suatu pertolongan dan jalan keluar dari kesulitan kami ini.

Maka kami pun tetap berangkat ke Makkah dengan keledai tua yang tertatih-tatih dan lambat sekali, sehingga rombongan kami merasa keberatan dan payah atas lambatnya keledai kami. Akhirnya kami pun sampai juga di Makkah, dan mencari bayi yang akan kami susui.” (Sirah Ibnu Hisyam halaman 37).

Pada saat itu pula, Sayyidina Abdul Muthalib (kakek Nabi Saw.) mendengar hatif (seruan malaikat yang diperintah oleh Allah Swt.) yang menyerukan agar Rasulullah Saw. jangan disusukan kecuali kepada Sayyidah Halimah as-Sa’diyyah Ra. (As-Sirah an-Nabawiyyah juz 1 halaman 56).

إن ابن آمنة الآمين محمد خير الأنام وخيرة الأخيار 
ما أن له غير الحليمة مرضع نعم الأمينة هي على الأبرار 
مأمونة من كل عيب فاخش ونقية الأثواب والأوزار 
لاتسلمنه إلى سواها أنه أمر حكيم جاء من جبار


“Sesungguhnya Muhammad Saw. al-Amiin putra Sayyidah Aminah, adalah insan yang paling utama dan sebaik-baiknya pilihan Allah Swt.
Tiada yang berhak untuk menyusuinya kecuali Halimah as-Sa’diyyah. Dialah (Halimah) sebaik-baiknya wanita pilihan.
Yang terjaga dari segala aib dan kejelekan, serta telah disucikan lahir dan batinnya.
Janganlah sekali-kali engkau serahkan Muhammad Saw. selain kepadanya. Sungguh ini adalah suatu keputusan dan ketetapan dari Allah Swt. Dzat Yang Maha Kuasa atas segala-galanya.”
Sesampainya Sayyidah Halimah di Makkah, maka dengan izin Allah Swt. beliau ditemukan dengan Sayyidina Abdul Muthalib Ra. Dan saat itu pula Sayyidina Abdul Muthalib telah mengetahui bahwa beliau (Sayyidah Halimah) adalah sebagian dari rombongan para wanita yang sedang mencari anak untuk dirawat dan disusuinya.

Sayyidah Halimah Ra. berkata:
“Kemudian Sayyidina Abdul Muthalib menemuiku dan bertanya: “Siapakah sesungguhnya engkau dan dari manakah asalmu?”

Aku pun menjawab:
“Wahai Tuan Abdul Muthalib, saya adalah seorang wanita biasa dari kabilah Bani Sa’ad.”

Beliau bertanya lagi:
“Siapakah namamu?”

Aku pun menjawab:
“Duhai Tuan Abdul Muthalib, namaku adalah Halimah.”

Beliau kemudian tersenyum bahagia dan berkata:
“Halimah dan Sa’diyyah adalah dua nama yang sangat indah sekali yang menunjukkan kemuliaan dan kebaikan dunia akhirat, maukah kamu menyusui dan merawat cucuku, niscaya engkau mendapati keberuntungan yang abadi?”

Aku pun menjawab:
“Wahai Tuan, sungguh saya bersedia, segera pertemukan saya dengannya.”

Maka wajah Tuan Abdul Muthalib semakin berbinar-binar memancarkan kebahagian yang meluap (atas tercapainya apa yang diharapkan). Kemudian beliau mengajakku masuk ke dalam rumah Sayyidah Aminah Ra.

Sesampainya di sana, beliau (Sayyidah Aminah Ra.) menyambutku dan berkata:
“Selamat datang dan kami senang bertemu denganmu.”

Kemudian beliau (Sayyidah Aminah Ra.) mengajakku masuk ke kamar Rasulullah Saw. dengan sangat perlahan-lahan dan sangat hati-hati. Setelah aku melihatnya, aku sangat kagum dengan keindahan wajahnya yang sangat anggun mempesona laksana mutiara yang tiada duanya.

Beliau Saw. sedang tidur dengan pulas berselimutkan sutera yang sangat putih dan jernih melebihi putihnya susu dan terhampar di bawahnya sutera hijau yang sangat indah dan semerbak bau yang sangat harum menyebar dari tubuhnya. Maka aku pun mendekatinya dengan sangat perlahan dan hati-hati karena khawatir membangunkan beliau dari tidurnya.

Dan dengan sangat hati-hati aku usapkan tanganku di dada beliau. Tiba-tiba beliau terbangun dan membuka kedua matanya dan tiba-tiba pula memancar cahaya dari kedua mata beliau dan kemudian beliau pun memandangku dengan senyumnya yang sangat indah. Aku pun terpana dan sangat kagum, belum pernah selama hidupku aku melihat peristiwa yang sangat luar biasa seperti ini. Aku pun tak sabar lagi untuk secepatnya memegang dan memeluknya.

Seketika itu pula, dengan reflek aku cium keningnya (antara kedua matanya). Aku angkat, aku gendong, aku peluk dan tiba-tiba kedua payudaraku yang tadinya sedikit air susunya, seketika menjadi penuh dan deras air susunya. Maka Aku pun memberikan susu kanan kepada beliau, dan beliau pun meminumnya. Begitu aku pindahkan ke sebelah kiri, beliau menolaknya. Seakan-akan beliau memberikan isyarah bahwa susuku yang kiri adalah untuk anakku Abdullah.”

Para ahli ilmu mengatakan tentang hal ini:
“Sesungguhnya Allah Swt. memberikan ilham kepada Rasulullah Saw., bahwa beliau mempunyai saudara yang menyusu bersamanya, maka beliau Saw. pun memberikan bagian untuknya.”

Sayyidah Halimah Ra. berkata:
“Setelah beliau Saw. merasa cukup, kemudian aku susui anakku Abdullah dengan susu kiri sampai kenyang dan tidur pulas. Padahal sebelumnya anakku tidak pernah bisa tidur pulas karena lapar."

"Pada saat itu pula, suamiku yang sedang menunggu di luar mendekati onta yang kami bawa. Tiba-tiba onta kami tersebut kelihatan segar, gemuk dan kantong susunya penuh dengan air susu. Kemudian ia memerah susunya untuk kami minum sampai kami merasa segar dan kenyang sekali. Dan kami pun bisa tidur pulas di malam itu, padahal sebelumnya kami tak pernah bisa tidur pulas."

Maka pada pagi harinya suamiku berkata:
“Wahai istriku tercinta Halimah, sungguh kita telah mendapatkan bayi agung yang sangat mulia dan penuh keberkahan.”

"Demikian pula, keledai kami yang dulunya kurus dan lemah kini tiba-tiba menjadi gemuk, kuat, sehat dan cepat jalannya.” (As-sirah an-Nabawiyyah juz 1 )








""""

Rabu, 23 Mei 2018

Wanita Cantik Rupawan Sang Penggoda Ulama


Kisah ini terjadi pada abad pertama hijriyah, di zaman tabi’in.
“Wahai suamiku, adakah di Makkah ini laki-laki yang jika melihat wajah cantikku ini ia tidak tergoda.....?
” tanya seorang istri kepada suaminya" sambil bercermin.
Ia sangat mengagumi kecantikan yang terpantul di kaca itu.
“Ada.”
jawab sang suami.
“Siapa?”
kata istrinya....
“Ubaid bin Umair.” jawab suaminya, Sang istri diam sejenak.
Ia merasa tertantang untukmembuktikan bahwa kecantikannya akan mampu menggoda laki-laki itu.
“Wahai suamiku,(katanya merayu)
“bolehkah aku membuktikan bahwa aku bisa membuat Ubaid bin Umair bertekut lutut di depanku...?"
Sang suami terkejut dng permintaan ekstrem itu,
Tetapi ia sendiri juga merasa rencana istrinya itu akan menjadi sesuatu yang menarik,untuk menguji keshalihah seorang ulama.
“Silahkan, aku mengijinkanmu".
Setelah merias diri sedemikian rupa, berangkatlah wanita itu mencari Ubaid bin Umair di Masjidil Haram.
Ubaid adalah seorang ulama yang lahir semasa Rasulullah saw masih hidup. Nama lengkapnya Ubaid bin Umair bin Qatadah Al Laitsi AlJunda’i Al Makki. Beliau wafat pada tahun 74 hijriyah.
Saat menjumpai Ubaid, wanita itu berpura-pura meminta nasehat.
Ia beralasan kebutuhannya amat penting,& memintanya pindah ke pojok masjid. Sesampainya di sana, wanita itu membuka cadarnya & tampaklah wajah cantiknya laksana bening rembulan.
“Apa yang kau lakukan....? kata Ubaid melihat kejanggalan wanita tersebut.
“Sungguh, aku mencintaimu, Aku hanya ingin jawaban darimu,” sergah wanita itu, terus berusaha menggoda Ubaid.
“Sebentar,” kata Ubaid. Kini nadanya mulai naik.
“Ada beberapa pertanyaan yang jika kau menjawabnya dengan jujur,maka aku akan menjawab pertanyaanmu tadi.
“Baik,aku akan menjawabnya dengan jujur.
”Pertama,
seandainya Malaikat Maut datang menjemputmu saat ini, apakah engkau senang aku memenuhi ajakanmu....?
”Wanita itu tak menyangka akan mendapatkan pertanyaan yang langsung mengingatkannya dengan kematian. Kemudian menjawabnya
“Tidak”
"Kedua,
seandainya saat ini engkau berada di alam kubur dan sedang didudukkan oleh Malaikat Munkar dan Nakir untuk ditanyai, apakah engkau senang aku penuhi ajakanmu...?
”Tidak” jawabnya.
“Ketiga,
seandainya saat ini semua manusia menerima catatan amalnya dan engkau tidak tahu apakah kau akan mengambilnya dengan tangan kanan atau tangan kiri, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu....?
“Tidak"
"Keempat,
Seandainya saat ini seluruh manusia digiring ke timbangan amal dan engkau tidak tahu apakah timbangan amal kebaikanmu lebih berat atau justru amal buruknya yang lebih berat, apakah engkau senang jika aku memenuhi ajakanmu.....?
“Tidak”
"Kelima,
seandainya saat ini engkau berada di hadapan Allah untuk dimintai pertanggungjawaban atas semua nikmat-Nya yang telah dianugerahkan kepadamu,
masihkah tersisa rasa senang di hatimu jika aku memenuhi ajakanmu....?
”Demi Allah tidak“
"Kalau begitu wahai wanita, takutlah kepada Allah, betapa Allah telah memberikan segalanya kepadamu.”
Kini dia tak kuasa menahan air mata, padahal sebelumnya dia datang ke Masjidil Haram dengan penuh percaya diri berpura-pura mencari nasehat, kini ia benar-benar mendapatkan nasehat yang sebenarnya dan benar-benar menyentuhnya.
Sesampainya di rumah, sang suami terkejut melihatnya bersedih.
“Apa yang terjadi wahai istriku....?" kata suaminya.
“Kita ini termasuk orang yang celaka,” jawab wanita itu,
kemudian ia mengambil wudhu dan shalat. Hari-hari berikutnya,ia berubah drastis.
Ia tak lagi membanggakan kecantikannya.
Ia tak lagi suka berdandan di setiap malam.
Ia berubah menjadi ahli shalat dan puasa.
Subhaanallah...
Semoga kisah ini menginspirasi kita semua.... bahwa apa yang kita miliki didunia entah itu bentuk wajah yang bagus maupun kekayaan yang melimpah janganlah untuk kesombongan, tetapi bersyukurlah bahwa masih banyak yang tidak sebaik kita.
Dan ingat bahwa semuanya tidak ada artinya bila hari telah tiba...

Cintai Dan Setialah Kepada Pasanganmu


Kisah ini dituturkan Dr Karim Asy Syadzili dalam buku Kado Pernikahan; Bulir-Bulir Cinta untuk Suami Istri Demi Terwujudnya Pernikahan yang Barokah. Seorang suami mengeluh persoalan berat yang melanda rumah tangganya. Cintanya hilang. Ia tak lagi mencintai istrinya.
“Aku sudah tak lagi mencintai istriku,seakan-akan cintaku ditimpa penyakit kanker yang ganas. Menggerogoti hingga tak berbekas,”
Dokter jiwa itu memperhatikanku dengan serius, namun raut wajahnya tetap tenang. Aku perlu bercerita selengkap mungkin agar mendapatkan solusi yang tepat.
“Sebenarnya obatnya sangat sederhana”
“Sangat sederhana?” 
Rasa penasaran membuatku tak sabar,
“obat apakah itu, Dok?"
“Cintailah istrimu”
"Apa? Tidak salahkah aku mendengarnya?
“Aku datang untuk mengadukan bahwa cintaku kepada istri telah hilang. Lalu engkau menyuruhku mencintainya? 
"Lalu apa gunanya aku datang kepadamu?”
agak tinggi nadaku menanggapi kalimat dokter di hadapanku itu.
“Kalau begitu… "
"cintailah istrimu”
Karena psikiater itu mengulangi lagi saran yang sama, seiring membaik kesabaranku, aku bertanya apa maksudnya.
“Wahai dokter, apa yang sebenarnya engkau maksudkan?" 
"Bagaimana caranya aku bisa kembali mencintai istriku?”
“Pak, apakah sebelumnya engkau pernah mencintai istrimu?” 
tanyannya sambil tersenyum.
“Tentu saja. Dulu aku sangat mencintainya.”
“Apa yang kau lakukan saat itu agar cintamu langgeng?”
“Aku biasa memberinya hadiah, mengajaknya makan malam ke rumah makan, mengajaknya jalan-jalan ke pantai…" 
"Banyak hal yang memang kulakukan di awal-awal pernikahan, saat cintaku menggelora dan segalanya indah di mata. Seakan dunia milik kami berdua".
“Nah, aku ingin kau melakukan hal yang sama seperti itu selama satu bulan ini secara terus menerus”
Meskipun awalnya ragu dengan istilah “cintailah istrimu”, penjelasan dokter dan sarannya itu menurutku masuk akal juga. Tidak ada salahnya mencoba.
Sebulan kemudian, kami kembali bertemu. Dokter jiwa itu menyambutku sangat hangat. Agaknya ia bisa melihat perbedaan yang sangat signifikan dari wajah dan bahasa tubuhku.
“Jadi, bagaimana hasilnya?” 
pertanyaannya langsung to the point.
“Terima kasih, Dok. Ternyata saranmu benar-benar manjur. Hubungan rumah tanggaku berangsur-angsur membaik. Binar-binar cinta tampak di mata istriku. Dan anehnya, cintaku juga kembali seperti dulu. Dia mencintaiku dan aku pun mencintainya.”
“Cinta itu perlu pembiasaan,” 
kata dokter itu menyampaikan kesimpulan,
“Tidak seperti film-film romantis yang hanya perlu janji-janji dan kata-kata manis.”
Mungkin Anda saat ini juga mengalami apa yang dialami oleh laki-laki di atas. Tak lagi mencintai istri, atau kadar cintanya berkurang. Tak perlu buru-buru ke psikiater, cobalah bangun kembali cinta itu. Sebab cinta adalah kata kerja. Ia akan hadir jika kita mengupayakannya, insya Allah.
تَهَادَوْا تَحَابُّوا
“Salinglah memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintai” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad)
Betapa nasehat Rasulullah ini menunjukkan salah satu cara membangun cinta, termasuk cinta kepada suami istri. Dalam hadits yang lain, disebutkan cara membangun cinta adalah dengan salam.
Setiap perhatian kita kepada istri, ucapan indah kita kepadanya, kebaikan dan hadiah yang kita berikan, pengorbanan yang kita lakukan… semuanya akan menumbuhkan cinta. Saat cinta istri tampak seperti dulu, insya Allah cinta kita juga kembali seperti dulu. Dan jangan lupa berdoa. Perbanyak doa karena Allah-lah Sang Pemilik cinta dan penggenggam hati hambaNya.

Senin, 21 Mei 2018

KENALI AIB DIRI NAFSU TERSEMBUNYI

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik, kisah Imam Ahmad bin Miskin, seorang ulama' abad ke-3 dari kota Basrah, Iraq. Beliau bercerita,

"Aku pernah diuji dgn kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Ketika itu, aku tidak memiliki apa-apa, sedangkan aku sedang menanggung seorang isteri dan seorang anak."

"Rasa lapar yg amat sangat telah terbiasa mengiringi hari-hari kami. Maka aku bertekad utk menjual rumah dan berpindah ke tempat lain. Aku berjalan mencari orang yg bersedia membeli rumahku."

"Bertemulah aku dgn sahabatku Abu Nasr dan ku ceritakan keadaanku. Lalu, dia memberiku 2 keping roti berisi manisan dan berkata, “Berikan makanan ini kpd keluargamu.”

"Dlm perjalanan pulang,
aku berselisih dgn seorang wanita fakir dan anaknya. Tatapannya jatuh di kedua keping rotiku.

Dengan nada yg sayu dia meminta; 
“Wahai Tuan, anak yatim ini belum makan, tidak terdaya terlalu lama menahan rasa lapar yg melilit diri. Tolong berikan dia sesuatu yg boleh dia makan. Semoga Allah Taala merahmati Tuan.”

"Sementara itu, si anak memandangku dgn tatapan yg tidak akan ku lupakan sepanjang hayatku. Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dlm khayalan ukhrawi, seolah-olah syurga turun ke bumi, menawarkan dirinya kpd siapapun yg ingin meminangnya, dgn mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini."

"Tanpa ragu sedetikpun, ku serahkan semua yg ada ditanganku, “Ambillah, beri dia makan”, kataku kpd si ibu. Demi Allah, padahal waktu itu, aku tidak memiliki sesen dinar atau dirham pun. Sementara di rumah, keluargaku sangat memerlukan makanan itu."

"Lalu, si ibu tidak dapat membendung air matanya (menangis) dan si kecil pun tersenyum indah bak purnama."

"Ku tinggalkan mereka berdua dan ku lanjutkan langkah kakiku, sementara beban hidup terus bergelut di fikiranku."

"Sejenak, ku sandarkan tubuh ini di dinding sambil terus memikirkan rancanganku utk menjual rumah. Tiba-tiba Abu Nasr muncul datang kpd ku dgn kegirangan, “Hei, Abu Muhammad, kenapa kau duduk sahaja di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?” tanyanya."

"Masya Allah”, jawabku terkejut. “Dari mana datangnya?”

“Tadi ada lelaki datang dari Khurasan. Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau yg ada hubungan kerabat dgnnya. Dia membawa berduyun-duyun kenderaan barang penuh berisi harta,” ujarnya.

“Jadi?”, tanyaku kehairanan.

“Dia itu dahulu saudagar kaya di Basrah ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah memberikan harta yg telah dikumpulkannya selama 30 tahun kpdnya.

Lantas dia rugi besar dan muflis. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju ke Khurasan. Di sana, keadaan ekonominya beransur-ansur baik."

"Perniagaannya bertambah maju. Hidupnya yg susah berganti dgn limpahan kekayaan. Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yg lalu.

Maka sekarang, dia datang membawa semua harta hasil keuntungan perniagaannya yg telah dia kumpulkan selama 30 tahun dan ingin memberikannya kpdmu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”

Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya,

“Kalimah puji dan syukur kpd Allah Taala meluncur dari lisanku. Sebagai tanda kesyukuran, segera ku mencari wanita fakir dan anaknya tadi. Aku berbuat baik kpd mereka dan menanggung hidup mereka seumur hidup."

"Aku pun terjun ke dlm dunia perniagaan serta menyibukkan diri dgn kegiatan sosial, sedekah, kebajikan dan berbagai bentuk amal soleh."

"Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa ada kekurangan. Tanpa sedar, aku merasa TAKJUB dgn amal solehku. Aku MERASA, telah MENGUKIR lembaran catatan malaikat dgn hiasan AMAL KEBAIKAN. Ada semacam HARAPAN PASTI dlm diri, bahawa namaku mungkin telah TERTULIS di sisi Allah Taala dlm daftar orang orang SOLEH."

"Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. Ku lihat, diriku sedang berhadapan dgn hari kiamat. Aku juga melihat, manusia bagaikan ombak di lautan."

"Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa dan setiap orang memikul dosa masing-masing di belakangnya.

Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yg memikul beban sebesar kota Basrah di belakangnya. Isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yg menghinakan. Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan dan tiba giliranku utk perhitungan amal."

"Seluruh amal burukku diletakkan di salah satu timbangan sedangkan amal baikku di sisi timbangan yg lain."

"Ternyata, amal burukku jauh lebih berat drp amal baikku. Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka meletakkan satu persatu berbagai jenis amal baik yg pernah kulakukan.
Namun alangkah ruginya aku. Ternyata dibalik semua amal itu terdapat "NAFSU YANG TERSEMBUNYI."

"Nafsu yg tersembunyi itu ialah riya', ingin dipuji dan merasa bangga dgn amal soleh. Semua itu membuat amalanku tidak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satu pun amalanku yg terlepas drp nafsu-nafsu itu. Aku putus asa. Aku yakin aku akan binasa. Aku tidak punya alasan lagi utk selamat drp seksa neraka."

"Tiba-tiba, aku mendengar suara, “Masihkah orang ini mempunyai amalan yg baik?” “Masih.” jawab suara yg lain. “Masih ada.”

"Aku pun menjadi tidak tentu, amal baik apakah yg masih ada? Aku utk berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH dua KEPING ROTI berisi manisan yg pernah ku sedekahkan kpd wanita fakir dan anaknya. Habis sudah harapanku."

"Aku benar benar yakin akan binasa. Tidak mungkin dua keping roti ini dapat menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah dan tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar-benar tertipu."

"Segera 2 keping roti itu diletakkan di timbanganku.
Tidak ku sangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit dan terus bergerak turun sehingga lebih berat sedikit dibandingkan timbangan keburukkanku.

Tidak sampai di situ sahaja, tenyata masih ada lagi amalan solehku. Iaitu AIR MATA wanita fakir itu yg mengalir ketika aku memberikan sedekah. Air mata yg tidak terbendung mengalir di kala tersentuh akan kebaikanku. Aku, yg ketika itu lebih mementingkan dia dan anaknya berbanding dgn keluargaku."

"Sungguh tidak terbayang, saat air mata itu diletakkan, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat. Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata, “Orang ini selamat drp seksaan neraka."

Sumber tazkirah telah dipetik dari kitab "KISAH TAULADAN" "Ar-Rafi’i dlm  Qalam (2/153-160)."

Anak Durhaka Dan Kebijakan Seorang Perdana Menteri


Anak Durhaka Dan Kebijakan Seorang Perdana Menteri

Ini adalah sebuah pelajaran berharga bagi anak-anak bangsa kita
Sebuah Kisah Nyata Inspiratif dari Negeri tetangga Singapura beberapa dekade lalu yang cukup menghebohkan hingga Perdana Menteri saat itu, Lee Kwan Yew senior turun tangan dan mengeluarkan dekrit tentang orang lansia di Singapura.
Dikisahkan ada orang kaya raya di sana mantan Pengusaha sukses yang mengundurkan diri dari dunia bisnis ketika istrinya meninggal dunia. Jadilah ia single parent yang berusaha membesarkan dan mendidik dengan baik anak laki-laki satu-satunya hingga mampu mandiri dan menjadi seorang Sarjana.
Kemudian setelah anak tunggalnya tersebut menikah, ia minta ijin kepada ayahnya untuk tinggal bersama di Apartemen Ayahnya yang mewah dan besar. Dan ayahnya pun dengan senang hati mengijinkan anak menantunya tinggal bersama-sama dengannya.
Terbayang dibenak orangtua tersebut bahwa apartemen nya yang luas dan mewah tersebut tidak akan sepi, terlebih jika ia mempunya cucu. Betapa bahagianya hati bapak tersebut bisa berkumpul dan membagi kebahagiaan dengan anak dan menantunya.
Pada mulanya terjadi komunikasi yang sangat baik antara Ayah, Anak dan Menantu yang tentu membuat Ayahnya yang sangat mencintai anak tunggalnya itu tersebut tanpa sedikitpun ragu-ragu mewariskankan seluruh harta kekayaan termasuk apartment yang mereka tinggali, dibaliknamakan ke anaknya itu melalui Notaris terkenal di sana.
Tahun-tahun berlalu, seperti biasa, masalah klasik dalam rumah tangga, jika anak menantu tinggal seatap dengan orang tua, entah sebab mengapa akhirnya pada suatu hari mereka bertengkar hebat yang pada akhirnya, anaknya tega mengusir sang Ayah keluar dari apartment mereka yang ia warisi dari Ayahnya.
Karena seluruh hartanya, Apartemen, Saham, Deposito, Emas dan uang tunai sudah diberikan kepada anaknya, maka mulai hari itu dia menjadi pengemis di Orchard Rd. Bayangkan, orang kaya mantan pebisnis yang cukup terkenal di Singapura tersebut, tiba-tiba menjadi pengemis!
Suatu hari, tanpa disengaja melintas mantan teman bisnisnya dulu dan memberikan sedekah, dia langsung mengenali si ayah ini dan menanyakan kepadanya, apakah ia teman bisnisnya dulu. Tentu saja, si ayah malu danmenjawab bukan, mungkin Anda salah orang, katanya.
Akan tetapi temannya curiga dan yakin, bahwa orang tua yang mengemis di Orchad Road itu adalah temannya yang sudah beberapa lama tidak ada kabar beritanya. Kemudian, temannya ini mengabarkan hal ini kepada teman-temannya yang lain, dan mereka akhirnya bersama-sama mendatangi orang tersebut. Semua mantan sahabat karibnya tersebut langsung yakin bahwa pengemis tua itu adalah Mantan pebisnis kaya yang dulu mereka kenal.
Dihadapan para sahabatnya, si ayah dengan menangis tersedu-sedu, menceritakan semua kejadian yang sudah dialaminya. Maka, terjadilah kegemparan di sana, karena semua orangtua di sana merasa sangat marah terhadap anak yang sangat tidak bermoral itu.
Kegemparan berita tersebut akhirnya terdengar sampai ke telinga PM Lee Kwan Yew Senior. PM Lee sangat marah dan langsung memanggil anak dan menantu durhaka tersebut. Mereka dimaki-maki dan dimarahi habis-habisan oleh PM Lee dan,
PM Lee mengatakan;
“Sungguh sangat memalukan bahwa di Singapura ada anak durhaka seperti kalian” .
Lalu PM Lee memanggil sang Notaris dan saat itu juga surat warisan itu dibatalkan demi hukum! Dan surat warisan yang sudah baliknama ke atas nama anaknya tersebut disobek-sobek oleh PM Lee. Sehingga semua harta milik yang sudah diwariskan tersebut kembali ke atas nama Ayahnya, bahkan sejak saat itu anak menantu itu dilarang masuk ke Apartment ayahnya.
Mr Lee Kwan Yew ini ternyata terkenal sebagai orang yang sangat berbakti kepada orangtuanya dan menghargai para lanjut usia (lansia). Sehingga, agar kejadian serupa tidak terulang lagi, maka Mr Lee sang perdana menteri tersebut mengeluarkan Kebijakan / Dekrit yaitu;
“Larangan kepada para orangtua untuk tidak mengwariskan harta bendanya kepada siapapun sebelum mereka meninggal".
Kemudian, agar para lansia itu tetap dihormati dan dihargai hingga akhir hayatnya, maka dia buat Kebijakan berupa Dekrit lagi, yaitu agar semua Perusahaan Negara dan swasta di Singapura memberi pekerjaan kepada para lansia. Agar para lansia ini tidak tergantung kepada anak menantunya dan mempunyai penghasilan sendiri dan mereka sangat bangga bisa memberi angpao kepada cucu-cucunya dari hasil keringat mereka sendiri selama 1 tahun bekerja.
Anda tidak perlu heran jika Anda pergi ke Toilet di Changi Airport, Mall, Restaurant, Petugas cleaning service adalah para lansia. Jadi selain para lansia itu juga bahagia karena di usia tua mereka masih bisa bekerja, juga mereka bisa bersosialisasi dan sehat karena banyak bergerak. Satu lagi sebagaimana di negeri maju lainnya, PM Lee juga memberikan pendidikan sosial yang sangat bagus buat anak-anak dan remaja di sana, bahwa pekerjaan membersihkan toilet, meja makan diresto dsbnya itu bukan pekerjaan hina, sehingga anak-anak tersebut dari kecil diajarkan untuk tahu menghargai orang yang lebih tua, siapapun mereka dan apapun profesinya.
Sebaliknya, Anak di sana dididik menjadi bijak dan terus memelihara rasa hormat dan sayang kepada orangtuanya, apapun kondisi orangtuanya.
Meskipun orangtua mereka sudah tidak sanggup duduk atau berdiri,atau mungkin sudah selamanya terbaring diatas tempat tidur, mereka harus tetap menghormatinya dengan cara merawatnya.
Mereka, warganegara Singapura seolah diingatkan oleh PM Lee agar selalu mengenang saat mereka masih balita, orangtua merekalah yang membersihkan tubuh mereka dari semua bentuk kotoran, juga yang memberi makan dan kadang menyuapinya dengan tangan mereka sendiri, dan menggendongnya kala mereka menangis meski dini hari dan merawatnya ketika mereka sakit.
Bagaimana dengan Indonesia?
Mohon share ini kepada teman-teman Anda agar menjadi pengingat kepada kita semua.
Kisah ini di berasal dari facebook Assyifa salah seorang sobat dari Medan. 


,,,

Ucapan Selamat Dari Rasulullah

1) Apa kiranya perasaan Abu Bakar Ash Shiddiq r.a saat Nabiﷺ bersabda, “Andai kuambil kekasih di antara insan, pasti kujadikan Abu Bakar sebagai Khalilku.”
2) Apa kiranya perasaan ‘Umar bin Khattab r.a saat dia berpamit ‘umrah dan Nabiﷺ bersabda padanya, “Jangan lupakan kami dalam do’amu duhai saudaraku tersayang.”
3) Apa kiranya perasaan ‘Utsman bin Affan r.a saat membekali pasukan Tabuk dan Nabiﷺ bersabda, “Tiada yang membahayakan ‘Utsman apapun setelah ia lakukan ini.”
4) Apa kiranya perasaan ‘Ali bin Abi Thalib r.a tatkala Nabiﷺ bersabda, “Bahwasanya kedudukanmu di sisiku laksana Harun di sisi Musa, tapi tiada Nabi sesudahku.”
5) Apa kiranya perasaan Thalhah r.a saat Nabiﷺ bersabda, “Siapa yang ingin melihat syahid yang masih berjalan di atas bumi, lihatlah Thalhah.”
6) Apa kiranya perasaan Az Zubair r.a saat Rasulullahﷺ bersabda, “Setiap Nabi memiliki Hawari, dan Hawariku adalah Zubair bin ‘Awwam”
7) Apa kiranya perasaan Abu ‘Ubaidah r.a saat Nabiﷺ bersabda, “Setiap ummat memiliki Amin, dan orang kepercayaan ummat ini adalah Abu ‘Ubaidah.”
8.. Apa kiranya perasaan ‘Abdurrahman bin ‘Auf r.a saat dirinyalah dimaksud oleh sabda Nabiﷺ kepada Khalid bin Al Walid r.a, “Jangan cela sahabatku. Demi Allah andai kalian berinfak emas seberat gunung Uhud, hal itu tidak akan menyamai shadaqah segenggam atau setengah genggam tepungnya.”
9) Apa kiranya perasaan Mu’adz bin Jabal r.a, di saat Rasulullahﷺ bersabda padanya, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.”
10) Apa kiranya perasaan Ibnu ‘Abbas r.a, saat Nabiﷺ merengkuh dan mencium kepalanya lalu berdo’a, “Ya Allah faqihkan dia dan ajarkan tafsir padanya.”
11) Apa kiranya perasaan Ubay bin Ka’ab r.a, saat Nabiﷺ berkata padanya, “Allah memerintahkanku untuk membacakan Surat Al Bayyinah ini kepadamu”, hingga dengan wajah berseri-seri dia bertanya, “Ya Rasulullah, benarkah Allah menyebut namaku kepadamu?”  dan Nabiﷺ menjawab, “Benar.”
12) Apa kiranya perasaan Abu Musa Al Asy’ari r.a, di saat Nabiﷺ bersabda, “Esok datanglah menjumpaiku, aku ingin mendengarkan bacaan Qur’an-mu.”
13) Apa kiranya perasaan ‘Aisyah r.a, saat Nabiﷺ menyebut namanya tanpa ragu di urutan pertama, kala ditanya  ‘Amr, “Siapakah yang paling engkau cintai Ya Rasulullah?”
14) Apa kiranya perasaan Ibnu Mas’ud r.a, kala betis kecilnya ditertawakan; maka Nabiﷺ bersabda, “Betis itu di sisi Allah lebih berat dari Uhud.”
15) Apa kiranya perasaan ‘Ukasyah r.a, saat disebut 70.000 orang masuk ke surga tanpa hisab dan Nabiﷺ berkata, “Engkau termasuk di antara mereka.”
16) Apa kiranya perasaan Bilal bin Rabah r.a, saat Nabiﷺ bersabda, “Ceritakan padaku hai Bilal, ‘amal apakah yang paling kau jaga dalam Islam, sebab sungguh aku mendengar bunyi terompahmu di surga?”, lalu dia menjawab dengan tersipu, “Menjaga wudhu’ dan dua raka’at syukur atas wudhu.”
17) Apa kiranya perasaan orang-orang Anshar, di kala Nabiﷺ bersabda, “Jika manusia memilih jalan melalui sebuah lembah, sedang kaum Anshar mengambil suatu celah, niscaya aku turut serta di celah yang dilalui para Anshar. Ya Allah rahmatilah Anshar dan anak-cucu kaum Anshar.”
Apa kiranya perasaan para sahabat, yang mereka berjumpa Nabiﷺ pada petang dan pagi, berjalan mengiringi beliau, memperoleh senyum dan do’anya?
Apa kiranya perasaan kita saat kelak bertemu Nabiﷺ dan para Sahabatnya?

***

“Aku rindu….aku rindu….” Kata Rasulullahﷺ ketika sedang duduk bersama para Sahabatnya
Dan Sahabatpun bertanya, “Kepada siapa engkau rindu Ya Rasulullah?”
“Aku rindu kepada saudara-saudaraku.”
“Bukankah kami ini saudara-saudaramu Ya Rasulullah?”
“Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku rindu kepada saudara-saudaraku.”
“Siapa mereka Ya Rasulullah, yang engkau panggil mereka dengan sebutan saudaramu dan engkau rindukan itu?”
Rasulullahﷺ menjawab, “Mereka adalah ummatku kelak, yang belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tapi mereka merindukanku, mereka melanjutkan perjuanganku, dan tak jarang mereka meneteskan air mata karena menahan rindu padaku, Aku rindu pada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka.”

***

Nasehat KH uzairon thaifur abdillah

🔑 Orang yang maksiat itu seperti orang yang terjun bebas senang melayang layang setelah itu hancur lebur.

🔑 Siapa yang meremehkan shalat sekedar kedarnya mendirikan shalat dan membiarkannya belum khusyuk tanpa ada usaha untuk memperbaikinya, mengulur ulur waktu shalat  maka ia telah meremehkan Allah, maka Allah pun akan meremehkan dia

🔑 Hamba Allah yang paling bahagia di bumi ini adalah hamba yang senantiasa baik sangka kepada Allah dan baik sangka kepada makhluk – makhluk ALLAH.

🔑 Ketika seseorang menjaga sunnah [ dalam berpakaian ] aslinya bukan dia yang menjaga sunnah itu, tapi sunnah itulah yang menjaga dia.

🔑 Barang siapa mencari DUNIA dan dia meninggalkan agama, maka DUNIA nya hilang agama nya juga hilang [ naudzubillah ]

Kemudian sebaliknya sesiapa yang mencari agama kemudian meninggalkan DUNIA, maka DUNIA akan datang dengan hina kepadanya dan agamanya sempurna.

🔑  Kemaksiatan yang mendatangkan rasa hina dan malu, dan butuh kepada Allah, itu lebih bagus dari pada keta‘atan yang melahirkan sifat sombong dan tinggi hati [ bukan berarti maksiat itu lebih baik tapi begitu bahaya nya sifat SOMBONG ]

🔑 Teman teman yang hanya untuk di dunia ini sebentar lagi akan berpisah, teman yang mengajak kita kepada akherat itulah teman yang sebenarnya.

🔑 Istri yang sebenarnya adalah istri yang bisa

berkumpul di syurga, anak yang sebenarnya adalah anak yang berkumpul di syurga, temen yang sebenarnya adalah teman yang ada manfaatnya untuk akherat.

🔑 Orang bisa dikatakan sayang kepada orang lain jika dia mengajak orang tersebut taat kepada Allah,  mengajak kepada ridha Allah, mengajak menuju syurga, inilah hakekat sayang yang sebenarnya.

🔑 Selesaikan segala masalah dengan agama, jangan selesaikan masalah dengan melanggar agama, jika masalah ekonomi di selesaikan dengan bank riba, justru masalah ekonomi akan bertambah besar.

🔑  Apapun keadaan kita kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, rakyat maupun pejabat, jika itu perjalanan menuju neraka sungguh itu adalah perjalanan yang sangat mengerikan, begitupun sebaliknya bagaimanapun susahnya perjalanan di dunia ini kalau akhirnya menuju surga itulah perjalanan yg sangat indah

🔑  Para nabi datang ke dunia membawa agama sebagai penyelesai masalah kita dunia akherat, tapi setan selalu berbisik bahwa agama itu menyusahkan kita, agama membuat kita susah.

🔑  Cerita manusia tidak akan habis kisahnya

sebelum sebagian manusia ke surga dan sebagian manusia ke neraka, oleh karnanya apapun yang terjadi jangan pernah merasa sudah sukses sebelum kita masuk surga, walau keadaan kita kaya sekalipun.

🔑 Amal yang sungguh sungguh harus disertai dengan doa hasilnya,  mustajab.

🔑 Nabi Yunus as ketika gagal dalam dakwah tidak menyalahkan umatnya, tetapi beliau muhasabah diri dengan bertaubat dan minta ampun kepada Allah swt.

🔑 Di akherat tidak ada timbangan amal yang paling berat melebihi akhlaq yang bagus [ sebaik baik saya lebih baik orang lain, seburuk buruk orang lain lebih buruk saya ]

🔑 Hamba Allah yang senang hati hidup dalam sunnah nabi maka banyak doa mustajab & pertolongan Allah yang ia terima, Jangan sekali kali membanggakan diri walau tampak hidup dalam berkah Allah.

🔑  Kalau ingin jadi kekasih Allah istiqomah amal, istiqomah meninggalkan maksyiat, karena amal bukan hanya shalat puasa haji tapi menahan diri dari maksiat itu juga amal besar.

🔑 Orang yang bisa menghadapi fitnah fitnah zaman saat ini adalah org yang haqqul yakin, harapan, keprihatinannya, tumpuan hidupnya cita citanya hanya negeri akherat.

🔑  Iman itu ada rasanya,  seperti gula ‘manis’,  kalau iman belum ada rasanya berarti iman palsu.

🔑 Pada hakikatnya seorang Da’i/Da’iah itu wajahnya berhadapan dengan manusia, tapi hatinya menghadap Allah. Lisannya membujuk rayu manusia untuk ta’at pada Allah, tapi hatinya meminta-minta hidayah kepada Allah.”

🔑 Orang yang masuk syurga tanpa hisab diantaranya adalah orang yang cinta mencintai karena Allah, duduk berkumpul berjumpa dan berpisah karena Allah, saling ziarah menziarahi [ silaturahmi ] karena Allah, saling bantu membantu urusan agama karena Allah.

semoga bermanfaat...

Kyai Itu Harus Yang Seperti Apa

Ada Apa dengan Kiai?

Anak muda itu bersungut-sungut dan curhat ke Ujang: "Kenapa ceramah dari kiai sepuh tadi itu kok isinya cerita saja, jarang sekali kutipan dalil ayat dan hadisnya."

"Terus? Apa lagi?" tanya Ujang

"Iya Kang....begitu diminta baca doa, mbah kiai itu juga doanya pendek-pendek saja, gak bisa bikin jamaah menangis kayak dzikirnya ustad yang sering tampil di tv itu lho"

"Masih ada? keluarkan saja...ayo apalagi?"

"Satu lagi Kang....kok mbah kiai tadi juga pakaiannya sederhana dan gak pakai sorban melingkar di atas kepalanya, atau tangannya gak memegang biji tasbih. Saat diajak bicara juga biasa saja gak kelihatan kayak orang alim yang sedikit-sedikit menyebut subhnallah...masya Allah. Bahkan tadi malah guyonan gitu sama panitia. Beliau beneran kiai gak sih?"

Ujang meletakkan hp nya di atas meja. "Jundi, ente dengerin yah....soalnya saya cuma ngomong ini sekali. Tidak ada siaran ulangan," ujar Ujang dengan suara yang mendadak terdengar berat dan berwibawa ala vokalis Jamrud.

Jundi, anak muda yang curhat itu, mendadak tegang.

Sedetik kemudian Ujang tertawa ngakak. "Nah kan...baru saya ubah gaya saya bicara dan pasang muka jaim, ente sudah tegang. Para Kiai itu gak mau jaim dalam tutur kata maupun sikap kesehariannya, karena umat bisa tegang terus. Para Kiai itu ingin akrab dan dekat dengan umat, bukan malah menciptakan jarak dengan berbagai atribut ke-kiai-annya. Ada kalanya para Kiai itu pakai sorban, atau cuma peci, atau malah pakai blankon, topi cowboy, atau topi pet gaya anak muda. Kiai yang gondrong juga ada lho. Ilmu mereka luwas, dan sikap serta penampilan mereka luwes."

Jundi mulai manggut-manggut.

Ujang meneruskan gaya kultumnya. "Para Kiai itu tahu betul hadis Nabi yang mengatakan Allah tidak melihat penampilanmu, tapi melihat isi hatimu. Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila suwarikum, walakin yanzhuru ila qulubikum."

"Ah mendadak pakai dalil deh diriku ini" mbatin Ujang.

Ujang lantas membuka hpnya dan menunjukkan kepada Jundi sejumlah foto para Kiai yang penampilannya santai. Ada foto santai Mbah Muslim Imampuro (Allah yarham), ada foto Kiai Mustofa Bisri yang selepas menolak menjadi Rais Am wajahnya makin bersinar dan terlihat sehat berseri tanda tidak punya beban berat. Beliau enteng saja mau pakai topi, peci atau sorban. Dan foto Habib Luthfi, sang mursyid tarekat, yang dengan nyamannya pakai topi cowboy atau blankon.

"Kalau soal para Kiai jarang pakai dalil apa alasannya Kang?"

"Jundi, kalau soal dalil tanya sama santri....mereka dalam dua menit sudah bisa ngasih dalil yang kamu minta. Sekarang itu sudah ada software maktabah syamilah. Gampang banget nyari dalil. Justru kalau para Kiai ceramah, saya lebih fokus pada kisah dan cerita yang mereka sampaikan hasil pergumulan batin mereka berpuluh tahun mengajar dan mengabdi. Ini yang gak ada software-nya. Ini yang susah kita temukan. Justru ceramah modal para Kiai itu sudah refleksi seabrek-abrek dalil dan aplikasinya sehari-hari. Level para beliau itu gak lagi main dalil. Sama saja dengan level Jenderal bintang empat kok masih ditanya gimana caranya baris berbaris. Jenderal sudah mikir gimana menang perang kok ditanya dalilnya hadap kanan-hadap kiri."

Ujang melanjutkan: "dulu Gus Dur juga ditanya kenapa kalau ceramah gak ngutip ayat dan hadis kayak penceramah yang lain. Kata Gus Dur: lha yang lain itu ngutip ayat dan hadis biar dipanggil kiai, sedangkan saya dari dulu juga sudah dipanggil Kiai."

Jundi berusaha menahan senyum lantas tanpa sadar Jundi mengelus jenggotnya yang cuma lima lembar dan dipaksakan tumbuh itu. "Tapi mengapa doa mereka pendek saja Kang?"

"Doa itu bukan soal panjang atau pendek, atau berurai air mata. Doa itu soal bisikan kalbu yang langsung tersambung ke Arasy Ilahi. Para Kiai doanya pendek karena mereka sudah habis waktunya untuk mengajar santri dan mengurusi umat (ditambah lagi menjawab pertanyaan dan komentar di fesbuk). Nanti disepertiga malam, di saat semua terlelap, para Kiai berkhalwat dan bermunajat sendirian. Doa dan rintihan mereka panjang sekali saat itu. Sajadah mereka basah oleh tangisan. Tapi itu dilakukan di bilik tempat mereka berkhalwat. Bukan di depan umum dan disorot kamera tv."

Jundi mengelus lagi jenggotnya. Ujang mulai kumat isengnya. "Jundi, nih duit dua puluh ribu untuk dirimu, beli yah obat penumbuh jenggot...biar lebatan dikit itu jenggot. Mau nyunnah kok tanggung gitu sih. Cuma lima lembar...udah gitu tumbuhnya kok berjauhan. Gak kompak blas...!"

Tabik,

Nadirsyah Hosen
Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan dosen senior Monash Law School

Sedekah Itu Harus Bagaimana?

*jangan sedekah seperti ini lagi ya*

Ilustrasi 1

"Puasa ini, kita ngadain santunan dhuafa rada beda dgn santunan bulan bulan biasa. Isi paket yg dibagiin mukena atau sajadah,  kue lebaran, jilbab atau baju koko, " usul seseorang

"Di tanah abang banyak tuh mukena mukena parasut gitu, muraaah banget. 25 ribu juga ada. Beli itu aja. Buat dibagi bagiin ini..." jawab si A

"Kue lebaran di jalan ciledug deket giant juga banyak. ada nastar, sagu keju, kastengel, 1 toples gede hanya 25 ribu. Belum pernah nyobain sih rasanya kayak apa kok bisa murah gitu yaa. Nggak apalah, buat dikasih kasihin ini," jawab yang lain.

💦💦💦
Ilustrasi 2

"Nitip 100ribu ya mba, ikut sedekah nasi bungkus. Bikinin 20 bungkus," kata si A

"Maaf mba, kami domisili di Bintaro. Nasi bungkus 5000? bingung kami mba isinya apa. Kami biasa sebungkus harga 14ribu sampai 20ribu. Seringnya sih 18ribu sebungkus. Nasi padang pake ayam, sayur, sambel. Atau 17 ribu nasi kotak isi ayam bakar, tahu, tempe, lalapan, sambel" Jawab si B

"Bisa kok mba 5000. Pake tahu, tempe, sayur bening labu misalnya,  banyakin aja kuahnya, buat dibagi bagiin ini," argue si A

💦💦💦
Cerita diatas hanyalah ilustrasi, tapi terinspirasi dari kisah nyata.

Betapa banyak sedekah asal asalan, barang paling murah, kualitas paling jelek, rasa paling ngasal, dengan alasan "buat di bagi bagiin ini"

Memberi yg baik, menghargai sang penerima sedekah, sama nilainya dgn menghargai diri sendiri

Sedekah mukena diterima, tapi nggak dipake karena bahannya gerah, kalo dipake panas banget bikin nggak konsen sholat,  menerawang, terlalu tipis... lantas adakah keberkahan bagi sang pemberi jika sedekahnya tak membawa guna?

Kue lebaran diterima, dimakan, tapi di lepeh karena hanya rasa tepung aja...lalu sisanya teronggok sampai menjamur, akhirnya dibuang buang juga, lantas adakah keberkahan bagi sang pemberi jika sedekahnya tak membawa makna?

Nasi bungkus hanya berisi tahu, tempe, sayur bening dgn kuah yg banyak. Gak ada istimewanya dibanding yg biasa dimakan sehari hari oleh di penerima,
Bukankah lebih elok memberi makan menu yg istimewa, yg membawa binar bahagia bagi si penerima?

Sedekah itu bebas

Semampunya

Tapi sebaik baik sedekah adalah yang kita pun menginginkannya.

Jangan menyedekahkan sesuatu yg kita aja nggak sudi memakainya, jangan menyedekahkan makanan yang kita pun sama sekali nggak berselera memakannya...

Kualitas sedekah kita..mencerminkan kualitas hati kita

Kualitas sedekah kita mencerminkan level ketaatan kita pada *Yang Maha kaya*

*kang mas Aqmal Khaidar Ali