CERITA DAN KISAH : Kenapa Harus Melalui Para Ulama Dalam Memahami Al-qur'an dan Hadits

Selasa, 01 Mei 2018

Kenapa Harus Melalui Para Ulama Dalam Memahami Al-qur'an dan Hadits

Ada seorang pemuda yang merasa penasaran dengan permasalahan umat islam sekarang ini, dimana banyak ustad yang selalu menyebut agar kembali kedalam Al-qur'an dan hadits. Dan diapun sebenarnya sudah mengikutinya.

Tetapi karena dalam hatinya selalu berkecamuk tentang logika dan fakta yang menimpanya, maka dia pun menemui seorang kyai yang sudah dikenalnya demi memperoleh sebuah jawaban dari kegundahan hatinya.


Pemuda:
"Assalamu 'Alaikum, Kyai…"

Pak Kyai;
"Wa 'alaikumus Salam …Silakan duduk anak muda, siapa namamu dan dari mana asalmu "?


Pemuda;
"Terima kasih Pak Kyai. Nama saya toing dan saya berasal dari Kampung Seberang"


Pak Kyai;
"Jauh kamu bertandang ke sini, sudah tentu kamu punya hajat yang sangat besar…"
"Apa hajatnya, mana tahu mungkin saya bisa menolongmu ?"

Pemuda berjidat hitam tersebut diam sebentar, sambil menarik nafasnya dalam-dalam

Pemuda;
"Begini Pak Kyai,,,"
"Saya datang ke sini bertujuan ingin berbicara beberapa permasalahan dengan Pak Kyai…"
"Pendeknya, permasalahan umat Islam sekarang..."


Pak Kyai;
"Permasalahan seperti apa itu anakku.. ?"


Pemuda;
"Saya ingin bertanya, mengapa Kyai-kyai di kebanyakan pesantren dan Majelis-majelis dzikir di Indonesia, dan Tuan-tuan Guru di Malaysia serta Pattani dan Asia umumnya sering kali mengajarkan murid-murid mereka dengan lebih suka mengambil kalam-kalam atau pandangan para ulama.. ?"

"Seringkali saya mendengar mereka  menyebut, Kata Imam Syafii, kata Imam Ibn Atha’illah , Kata Imam Syaikhul Islam Zakaria Anshari dan lain"

"Mengapa tidak terus mengambil dari Alqur,an dan Sunnah.. ?"

"Bukankah lebih enak kalau kita mendengar seseorang tersebut menyebutkan Firman Allah taala di dalam Alqur,an, Sabda Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam di dalam hadist itu dan ini.. ?"

"Bukankah ulama-ulama itu juga punya kesalahan dan kekurangan."

"Maka mereka juga tidak luput dari melakukan kesilapan."
"Maka sebaiknya kita mengambil dari kalam Ma’sum yaitu Alqur,an dan Sunnah"

Pak Kyai mendengar segala hujjah yang disampaikan oleh pemuda tersebut dengan penuh perhatian.
Sedikit pun beliau tidak memotong malah memberikan peluang bagi pemuda tersebut berbicara sepuas-puasnya.
Sambil senyuman terukir di bibir Pak Kyai, beliau bertanya kepada pemuda tersebut.
Pak Kyai;
"Masih ada lagi apa yang ingin kamu persoalkan wahai nak Toing.. ?"


Pemuda;
"Sementara ini, itu saja yang ingin saya sampaikan Pak Kyai"


Pak Kyai;
"Sebelum berbicara lebih lanjut, eloknya kita minum dahulu ya…"

"Tiga perkara yang sepatutnya disegerakan adalah hidangan kepada tamu, wanita yang dilamar oleh orang yang baik maka disegerakan perkawinan mereka dan yang ketiga, si mati yang harus disegerakan urusan pemakaman nya.."

"Betul kan toing.. ?"


Pemuda;
"Benar sekali Pak Kyai"
Pak Kiyai lalu memanggil isterinya untuk menyediakan minuman pada mereka berdua…

Maka beberapa detik selepas itu, minuman pun sampai di hadapan mereka...


Pak Kyai;
"Silakan minum Toing.."

Setelah dipersilahkan oleh Pak Kyai, maka Toing pun terus mengambil  air tersebut lalu menuangkan perlahan-lahan ke dalam cangkir yang tersedia
Pak Kyai terus bertanya;
"Toing, kenapa kamu tidak minum dari tekonya saja.. ?"

"Kenapa perlu dituang di dalam gelas.. ?"


Pemuda;
"Pak Kyai, mana bisa saya minum langsung dari tekonya, Tekonya besar sekali…"

"Makanya saya tuang ke dalam cangkir agar memudahkan saya meminumnya..."


Pak Kyai;
"Toing, itulah jawaban terhadap apa yang kamu persoalkan tadi…"

"Mengapa kita tidak mengambil langsung dari Alqur'an,  dan Sunnah.."

"Terlalu besar untuk  langsung Kami minum  dari keduanya …"

"Maka kami mengambil apa yang telah dijelaskan di dalam gelas para ulama…"

"Maka ini memudahkan bagi kami untuk mengambil dan memanfaatkannya..."

"Benar kamu katakan bahwa mengapa tidak langsung saja mengambil daripada Alqur,an dan Sunnah..."

"Cuma persoalan ini, kembali ingin saya lontarkan kepada kamu…"

"Adakah kamu ingin mengatakan bahwa Imam Syafii dan para ulama yang kamu sebutkan tadi mengambil hukum selain dari Alqur,an,  dan Sunnah.. ?"

"Adakah mereka mengambil dari kitab Talmud atau Bible.. ?"


Pemuda;
"Sudah tentu mereka juga mengambil dari Alqur,an dan Sunnah"


Pak Kyai;
"Kalau begitu, maka sumber pengambilan kita juga adalah Alqur,an dan Sunnah cuma dengan paham para ulama"

"Satu lagi gambaran yang ingin saya terangkan kepada kamu… "

"Saya dan kamu membaca Alqur,an , Imam Syafii juga membaca Alqur,an bukan.. ?"


Pemuda;
"Sudah tentu Pak Kyai"


Pak Kyai;
"Baik, kalau kita membaca sudah tentu kita sedikit memahami ayat2 di dalam Alqur,an tersebut bukan.. ?"

"Imam Syafii juga memahami ayat yang kita bacakan…"

"Maka persoalannya, pemahaman siapa yang ingin didahulukan... ?"

"Pemahaman saya dan kamu atau pemahaman Imam Syafii terhadap ayat tersebut.. ?"


Pemuda;
"Sudah tentu pemahaman Imam Syafii karena beliau lebih memahami dibanding orang zaman sekarang"


Pak Kyai;
"Nah, sekarang saya rasa kamu sudah jelas bukan..?"

"Hakikatnya kita semua mengambil dari  sumber yang satu yaitu Alqur,an dan Sunnah"

"Tidak seorang pun yang mengambil selain dari keduanya."

"Cuma bedanya, kita mengambil  pemahaman Alqur,an dan Sunnah tersebut dari siapa.. ?"

"Sudah tentu kita akan mengambil dari orang yang lebih faham ilmunya, karena mereka lebih wara’ dan hati-hati ketika mengeluarkan ilmu"

"Kamu tahu Toing,,, "

"Imam Syafii pernah ditanya oleh seseorang ketika beliau sedang menaiki keledai, berapakah kaki keledai yang Imam tunggangi?

"Maka Imam Syafii turun dari keledai tersebut dan menghitung kaki keledai tersebut."

"Selesai menghitung, barulah Imam menjawab"

"Kaki keledai yang aku tunggangi ada empat"

Orang yang bertanya tersebut merasa heran lalu berkata;

"Wahai Imam, bukankah kaki keledai itu memang empat, mengapa engkau tidak langsung menjawabnya.. ?"

Imam Syafii menjawab;

"Aku bimbang, jika aku menjawabnya tanpa melihat terlebih dahulu, tiba-tiba Allah Ta’ala hilangkan salah satu kakinya maka aku sudah dikira tidak amanah di dalam memberikan jawaban"

"Coba kamu perhatikan Toing, betapa wara’nya Imam Syafii ketika menjawab persoalan berkaitan dunia."

"Apalagi kalau berkaitan dengan agamanya"


Pak kyai;
"Imam Malik pernah didatangi oleh seorang pemuda di dalam majlis ta'limnya di Madinah almunawwarah.."

"Pemuda tersebut mengatakan bahwa dia datang dari negeri yang jauhnya 6 bulan perjalanan ke Madinah. Pemuda itu datang untuk bertanya satu masalah yang ada di lokasinya"

"Imam Malik, mengatakan bahwa Maaf, aku tidak pandai untuk menyelesaikannya"

Pemuda tersebut heran dengan jawaban Imam Malik,
dan dia bertanya;

"Bagaimana aku akan menjawab nanti bila ditanya oleh penduduk tempatku. ?"

Maka kata Imam Malik;

"Katakan kepada mereka bahwa Malik juga tidak mengetahui bagaimana untuk menyelesaikannya"

"Allah…"

"Coba kamu lihat Toing, betapa amanahnya mereka dengan ilmu"
"Berbeda dengan manusia zaman now, yang baru seumuran jagung dalam ilmu, sudah menepuk dada mengaku bahwa seolah-olah mereka mengetahui segalanya"


Pemuda;
"Masyaa Allah, terima kasih Pak Kyai atas penjelasan yang sangat memuaskan."

"Saya memohon maaf atas kekasaran dan keterlanjuran bicara saya"


Pak Kyai;
"sama-sama Nak…"

"Semoga kamu akan menjadi seorang yang akan membawa panji agama kelak dengan ajaran yang benar dari Guru-gurumu yang bersanad Insyaa Allah"



Wallahualam...




,,,

Tidak ada komentar:

Posting Komentar