CERITA DAN KISAH : KENALI AIB DIRI NAFSU TERSEMBUNYI

Senin, 21 Mei 2018

KENALI AIB DIRI NAFSU TERSEMBUNYI

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik, kisah Imam Ahmad bin Miskin, seorang ulama' abad ke-3 dari kota Basrah, Iraq. Beliau bercerita,

"Aku pernah diuji dgn kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Ketika itu, aku tidak memiliki apa-apa, sedangkan aku sedang menanggung seorang isteri dan seorang anak."

"Rasa lapar yg amat sangat telah terbiasa mengiringi hari-hari kami. Maka aku bertekad utk menjual rumah dan berpindah ke tempat lain. Aku berjalan mencari orang yg bersedia membeli rumahku."

"Bertemulah aku dgn sahabatku Abu Nasr dan ku ceritakan keadaanku. Lalu, dia memberiku 2 keping roti berisi manisan dan berkata, “Berikan makanan ini kpd keluargamu.”

"Dlm perjalanan pulang,
aku berselisih dgn seorang wanita fakir dan anaknya. Tatapannya jatuh di kedua keping rotiku.

Dengan nada yg sayu dia meminta; 
“Wahai Tuan, anak yatim ini belum makan, tidak terdaya terlalu lama menahan rasa lapar yg melilit diri. Tolong berikan dia sesuatu yg boleh dia makan. Semoga Allah Taala merahmati Tuan.”

"Sementara itu, si anak memandangku dgn tatapan yg tidak akan ku lupakan sepanjang hayatku. Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dlm khayalan ukhrawi, seolah-olah syurga turun ke bumi, menawarkan dirinya kpd siapapun yg ingin meminangnya, dgn mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini."

"Tanpa ragu sedetikpun, ku serahkan semua yg ada ditanganku, “Ambillah, beri dia makan”, kataku kpd si ibu. Demi Allah, padahal waktu itu, aku tidak memiliki sesen dinar atau dirham pun. Sementara di rumah, keluargaku sangat memerlukan makanan itu."

"Lalu, si ibu tidak dapat membendung air matanya (menangis) dan si kecil pun tersenyum indah bak purnama."

"Ku tinggalkan mereka berdua dan ku lanjutkan langkah kakiku, sementara beban hidup terus bergelut di fikiranku."

"Sejenak, ku sandarkan tubuh ini di dinding sambil terus memikirkan rancanganku utk menjual rumah. Tiba-tiba Abu Nasr muncul datang kpd ku dgn kegirangan, “Hei, Abu Muhammad, kenapa kau duduk sahaja di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?” tanyanya."

"Masya Allah”, jawabku terkejut. “Dari mana datangnya?”

“Tadi ada lelaki datang dari Khurasan. Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau yg ada hubungan kerabat dgnnya. Dia membawa berduyun-duyun kenderaan barang penuh berisi harta,” ujarnya.

“Jadi?”, tanyaku kehairanan.

“Dia itu dahulu saudagar kaya di Basrah ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah memberikan harta yg telah dikumpulkannya selama 30 tahun kpdnya.

Lantas dia rugi besar dan muflis. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu. Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju ke Khurasan. Di sana, keadaan ekonominya beransur-ansur baik."

"Perniagaannya bertambah maju. Hidupnya yg susah berganti dgn limpahan kekayaan. Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yg lalu.

Maka sekarang, dia datang membawa semua harta hasil keuntungan perniagaannya yg telah dia kumpulkan selama 30 tahun dan ingin memberikannya kpdmu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”

Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya,

“Kalimah puji dan syukur kpd Allah Taala meluncur dari lisanku. Sebagai tanda kesyukuran, segera ku mencari wanita fakir dan anaknya tadi. Aku berbuat baik kpd mereka dan menanggung hidup mereka seumur hidup."

"Aku pun terjun ke dlm dunia perniagaan serta menyibukkan diri dgn kegiatan sosial, sedekah, kebajikan dan berbagai bentuk amal soleh."

"Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa ada kekurangan. Tanpa sedar, aku merasa TAKJUB dgn amal solehku. Aku MERASA, telah MENGUKIR lembaran catatan malaikat dgn hiasan AMAL KEBAIKAN. Ada semacam HARAPAN PASTI dlm diri, bahawa namaku mungkin telah TERTULIS di sisi Allah Taala dlm daftar orang orang SOLEH."

"Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. Ku lihat, diriku sedang berhadapan dgn hari kiamat. Aku juga melihat, manusia bagaikan ombak di lautan."

"Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa dan setiap orang memikul dosa masing-masing di belakangnya.

Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yg memikul beban sebesar kota Basrah di belakangnya. Isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yg menghinakan. Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan dan tiba giliranku utk perhitungan amal."

"Seluruh amal burukku diletakkan di salah satu timbangan sedangkan amal baikku di sisi timbangan yg lain."

"Ternyata, amal burukku jauh lebih berat drp amal baikku. Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka meletakkan satu persatu berbagai jenis amal baik yg pernah kulakukan.
Namun alangkah ruginya aku. Ternyata dibalik semua amal itu terdapat "NAFSU YANG TERSEMBUNYI."

"Nafsu yg tersembunyi itu ialah riya', ingin dipuji dan merasa bangga dgn amal soleh. Semua itu membuat amalanku tidak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satu pun amalanku yg terlepas drp nafsu-nafsu itu. Aku putus asa. Aku yakin aku akan binasa. Aku tidak punya alasan lagi utk selamat drp seksa neraka."

"Tiba-tiba, aku mendengar suara, “Masihkah orang ini mempunyai amalan yg baik?” “Masih.” jawab suara yg lain. “Masih ada.”

"Aku pun menjadi tidak tentu, amal baik apakah yg masih ada? Aku utk berusaha melihatnya. Ternyata, itu HANYALAH dua KEPING ROTI berisi manisan yg pernah ku sedekahkan kpd wanita fakir dan anaknya. Habis sudah harapanku."

"Aku benar benar yakin akan binasa. Tidak mungkin dua keping roti ini dapat menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah dan tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar-benar tertipu."

"Segera 2 keping roti itu diletakkan di timbanganku.
Tidak ku sangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit dan terus bergerak turun sehingga lebih berat sedikit dibandingkan timbangan keburukkanku.

Tidak sampai di situ sahaja, tenyata masih ada lagi amalan solehku. Iaitu AIR MATA wanita fakir itu yg mengalir ketika aku memberikan sedekah. Air mata yg tidak terbendung mengalir di kala tersentuh akan kebaikanku. Aku, yg ketika itu lebih mementingkan dia dan anaknya berbanding dgn keluargaku."

"Sungguh tidak terbayang, saat air mata itu diletakkan, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat. Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata, “Orang ini selamat drp seksaan neraka."

Sumber tazkirah telah dipetik dari kitab "KISAH TAULADAN" "Ar-Rafi’i dlm  Qalam (2/153-160)."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar