Belajar dari Kisah Nyata tentang Penyesalan, Kehilangan, dan Kekuatan Seorang Wanita
Saya mengenal wanita ini dengan baik. Teman di salah satu tempat terapian. Ibu dari teman anak saya. Namun saya sama sekali tak pernah mendengar kisah hidupnya yang penuh lika-liku. Sampai akhirnya di hari kematiannya, seluruh teman teman yang datang sibuk bercerita tentang masa hidupnya.
Ia seorang wanita sederhana, yang terbiasa tinggal di desa. Ia tidak begitu cantik, tetapi kepribadiannya yang lembut dan tutur katanya yang sopan membuat semua orang kagum padanya. Di usia yang masih belia, ia menikah dengan pemuda impiannya, seorang petani dan peternak.
Kehidupan awal dalam pernikahan mereka jauh dari kemewahan. Keduanya harus berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sembari tetap bekerja, ia melahirkan keenam putranya dan anak keduanya anak istimewa (autis) dan anak keenamnya (cerebral palsy). Ia merawat mereka seorang diri dengan penuh cinta kasih.
Not a Happily Ever After Story ...
Sekalipun telah melayani dan menjadi pendamping yang setia bagi sang suami, pernikahan wanita itu tidak berjalan seperti kisah dongeng. Kesetiaan dan kepercayaannya pada sang suami yang dicintainya dengan sepenuh hati harus dikhianati berkali-kali. Suaminya sering berselingkuh dengan wanita lain. Dan orang tuanya tidak mengakui cucu cucunya yang istimewa tersebut. Karena malu atau entahlah, hanya Alloh yang tahu pasti.
Suaminya yang kerap kali selingkuh bawa perempuan lain. Mungkin karena ia tidak cantik, mungkin ia tidak semenarik wanita-wanita lain itu. Ia hanyalah gadis desa yang sederhana, kalem, dan santun. Mungkin bagi sebagian pria, ia terlalu membosankan dan wanita lain terlihat begitu menggairahkan. Mengetahui hal itu, ia hanya diam dan menyimpannya dalam hati.
Seorang Ibu yang Kuat, Seorang Istri yang Taat
Sekalipun suaminya berkali-kali meninggalkannya dengan wanita lain, ia tetap setia menanti suaminya hingga pulang dan berusaha menutupi segalanya dari keenam putranya. Ia merawat keenam putranya dengan penuh kasih dan dengan kekuatan yang hanya dimiliki oleh seorang ibu yang hebat. Ia mendidik mereka agar kelak ketika dewasa mereka menjadi pria yang bisa menghargai wanita dan tidak hanya mempermainkan perasaan mereka.
Mungkin bila ia bisa mengungkapkan isi hatinya keras-keras, ia akan berkata pada keenam putranya, "Jangan menjadi seperti ayahmu!" Namun, ia tidak pernah melakukannya.
Di hadapan keenam putranya, ayah mereka tetap seorang sosok ayah yang sempurna. Semua itu berkat ketabahan dirinya.
Di saat istri lain akan marah dan memberontak ketika mengetahui suami mereka bermain api dengan wanita lain, ia tidak melakukannya. Setiap suaminya pulang ia tetap menyambut dengan senyum bahagia, dan melayani dengan penuh cinta. Di saat istri lain merasa muak dan meminta untuk berpisah, ia tetap setia.Baginya, janji untuk tetap setia dalam pernikahan adalah abadi. Hanya maut yang berhak memisahkan.
Turning Point ...
Suatu hari, suaminya pulang dengan wajah hampa. Kali ini mereka gagal panen karena wabah yang menyerang desa mereka. Kondisi ternak pun tidak begitu baik karena tidak seekor pun sapi mereka yang hamil dan sebagian mati. Di kala perekonomian sedang sulit karena serangan krisis moneter, usaha mereka harus hancur. Suaminya berlutut menangis dalam ketidakberdayaannya, depresi memikirkan bagaimana ia tidak dapat membiayai keluarganya untuk melanjutkan hidup. Keenam putra mereka sudah bersekolah semuanya. Bagaimana ia harus membayar setiap kebutuhan mereka?
Mungkin istri lain jika mengetahui hal ini, mereka akan segera pergi, mengata-ngatai sang suami, dan berkata, "Ini adalah karmamu karena telah menyakitiku!" Namun, ia tidak juga melakukannya.
Ia memeluk suaminya memberikan kekuatan dan menenangkannya. Mulai keesokan harinya ia membuat jajanan yang merupakan salah satu keahliannya, dan menjualnya dari rumah ke rumah. Walau hasil jualannya tidak sebanyak penghasilan mereka dulu, tetapi lumayan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.Dengan telaten, ia menggantikan suaminya sebagai tulang punggung keluarga hingga pekerjaan suaminya pulih seperti sedia kala.
Suaminya pun berubah. Semenjak hari ketika ia berlutut dan menangis tidak berdaya, tetapi dengan tegar istrinya memeluk dan menguatkannya, ia menyadari bahwa ia telahmenikahi wanita yang sangat berharga.
Ia menyadari betapa ia telah menyia-nyiakan permata yang begitu berharga selama berpuluh-puluh tahun pernikahan mereka. Ia menyesal dan mulai saat itu juga ia bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan lagi bermain-main dengan wanita lain. Ia bersumpah mulai saat itu juga ia akan senantiasa berusaha untuk membahagiakan sang istri.
Bagai Anak Ayam Kehilangan Induknya ...
Di hari pemakaman sang istri, ia hanya duduk terkulai lemas di atas kursi. Ia tidak pernah merasa kehilangan yang seperti itu. Tidak ketika ia kehilangan seluruh hartanya, tidak juga saat ia memutuskan hubungan dengan wanita-wanita idaman lainnya. Baru sekarang ia menyadari betapa ia telah menggantungkan dirinya pada sang istri. Wanita sederhana yang berasal dari desa, yang lugu dan lembut hatinya. Namun juga wanita yang begitu kuat dan tegar menghadapi berbagai cobaan hidup, serta tetap setia menemani setiap langkah kehidupannya. Baru kali ini ia sadar, betapa selama ini ia bersandar pada kekuatan istrinya.
Sepeninggal sang istri, ia seperti orang linglung. Keenam putranya telah dewasa dan berkeluarga. Mereka sepakat mau merawat ayah mereka bersama. Namun, ia merasa seperti anak ayam yang kehilangan induknya, kehilangan arah. Ia tidak lagi memikirkan apa yang harus ia lakukan hari esok, sementara ia tidak bisa berhenti bertanya siapa yang akan menyiapkan makanannya kini. Sewaktu ia pulang ke rumah, ranjangnya terasa kosong, tidak ada lagi wanita yang dengan setia menungguinya pulang selama ini. Ia merindukan senyumnya lebih dari apa pun.
Wanita itu bukan wanita yang istimewa karena kecantikannya atau kecerdasannya, bukan juga wanita yang hebat karena segudang prestasinya. Ia hanyalah seorang wanita yang sederhana, tetapi kuat menghadapi segala terpaan badai dalam hidupnya.
Ia mendedikasikan hidupnya bagi keluarganya, bagi keenam putranya, dan bagi suaminya. Ia cemerlang karena kesetiaannya, kesabarannya, dan kekuatannya.
Satu kalimat suaminya di hari pemakaman istrinya menutup kisah ini,
"Seandainya aku tahu lebih awal, betapa aku telah menikahi seorang wanita yang hebat ... mungkin aku bisa lebih membahagiakannya. Air matanya tak perlu jatuh karena tingkah dan ujarku. Sekarang, apa pun tak mungkin lagi mengembalikan hari-hari bersamanya, tak mungkin lagi melihat senyumannya ..."
Cintai, hargai, dan bahagiakanlah pasangan Anda sepenuh hati. Jangan menunggu sampai terlambat untuk menyadari ...
Semoga arwah nya tenang dan amalnya di terima di sisi Alloh. Amin.
Bagi anak-anak beliau tetap lanjutkan hidup kalian, jangan pernah menyerah untuk menerima ujian hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar